Video

Keruntuhan Nilai Kemanusiaan Barat, Kembalilah Kepada Nilai Islam

Tuesday, December 15, 2009 0 comments


Segala puji bagi Allah, selawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Saw., kepada keluarga, dan para sahabatnya.

Allah Swt berfirman,

“Dan sungguh telah Kami muliakan anak-anak Adam (manusia), Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik. Dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra': 70).

Dalam rangka mentaati perintah Allah untuk berjalan di muka bumi dan mengambil pelajaran darinya, maka kita dapat mengamati bahawa keadaan kemanusiaan di abad 21 ini sangat memprihatinkan. Sehingga kerosakan terjadi di darat dan lautan, kerana perbuatan tangan manusia.

Perbezaan berakhir dengan penyiksaan, bahkan pembunuhan. Senjata menjadi bahasa dialog antara manusia. Ini semua mengganti nilai-nilai Islami yang Allah serukan, seperti ta‘âruf (saling mengenal), ta‘âwun (tolong-menolong), hidup bersama, sebagaimana firman-Nya,

“Wahai sekalian manusia, sungguh Kami telah menciptakan kalian dari jenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal satu sama lain. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian." (QS. Al-Hujurat: 13).

Saat ini, kemanusiaan juga telah jauh dari fitrah yang Allah tetapkan. Nilai telah hilang, sehingga manusia tidak lagi memuliakan manusia lainnya.

Maksud dari "kemanusiaan" di sini adalah, kaedah dasar interaksi antara sesama manusia yang Allah tetapkan, untuk menjalankan tujuan penciptaan manusia, iaitu sebagai khalifah Allah di muka dunia; menegakkan syariat Islam dan memakmurkan dunia yang merealisasikan tujuan agung ketuhanan...

"Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di atas muka bumi..." (QS. Al-Baqarah: 30).

Oleh kerana itu, manusia memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Syariat Islam hadir untuk menjaga kemanusiaan; menjamin hak-haknya, memperbaiki keadaan hidupnya, dan memudahkan segala urusannya di dunia. Untuk itu, Allah Swt. menundukkan segala sesuatu untuk manusia, sebagaimana firman-Nya,

“Dan Allah telah menundukkan bagi kalian malam dan siang, matahari, bulan, dan bintang dengan titah-Nya. Sesungguhnya pada semua itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami. (QS. An-Nahl: 12).

Selain itu, Islam juga mengandung Maqâshid Al-Syarî‘ah (tujuan-tujuan utama Syariat) untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta, demi menjaga kehidupan dan kemuliaan manusia.

Di antara bentuk pemuliaan Allah terhadap manusia juga adalah, Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna, sebagaimana firmannya,

"Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna." (QS. Al-Tin: 4).

Bahkan Allah mengaitkan manusia dengan Dzat-Nya Yang Maha Tinggi, sebagaimana firman-Nya,

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku menciptakan manusia dari tanah. Dan apabila Aku telah menciptakannya dan meniupkan ruh milik-Ku ke jasadnya, maka sujudlah kalian kepadanya'. Kemudian seluruh malaikat sujud padanya. Kecuali Iblis, ia berlaku sombong dan ia tergolong kaum yang kafir." (QS. Shad: 71-74).

Dari dasar Islam yang sangat memuliakan manusia ini, maka lahirlah sebuah nilai yang tinggi, iaitu seluruh manusia sama dalam syariat, kerana seluruh manusia berasal dari keturunan yang sama, iaitu dari Adam dan Hawa. Allah Swt. berfirman,

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak... (QS. Al-Nisa: 1).

Nilai-nilai Apa yang Mereka Serukan?

Itulah nilai-nilai Islam yang pernah menguasai dunia lebih dari seribu tahun. Pada masa di mana Khilafah Islamiyah menjadi satu-satunya kiblat dunia dalam ilmu, akhlak, syariat, dan pola fikir. Sedangkan Barat pada masa itu masih menjalani kehidupan terbelakang dan menerapkan hukum rimba.

Ketika memasuki zaman Renaissance di Eropah pada abad pertengahan, Barat mulai mempelajari peradaban Islam, baik secara ilmu mahupun pemikiran. Saat itu, orang-orang mengira bahawa dunia akan menuju kedamaian dan saling tolong-menolong. Mensinergikan ruh dan akal. Akan tetapi, ternyata yang lahir dari "peradaban" Barat justeru peraturan yang bertentangan dengan fitrah manusia. Bahkan bertentangan dengan nilai yang Allah tetapkan.

Di antara nilai peradaban Barat yang bertentangan dengan fitrah itu adalah, menjadikan keuntungan kebendaan sebagai dasar dan satu-satunya timbangan menghukumi segala sesuatu. Sehingga tersebarlah keburukan. Seluruh saranan dibolehkan untuk merealisasikan keuntungan kebendaan bagi manusia.

Logik kebendaan materialistik itulah yang menjadi sandaran perkembangan penjajahan Eropah dan Amerika selama 6 abad terakhir. Mereka menghalalkan merampas kekayaan "masyarakat terbelakang". Bahkan, mereka menjual masyarakat itu sendiri di pasar perbudakan. Ratusan juta jiwa yang Allah muliakan dipaksa bekerja di pertanian dan perindustrian "peradaban Barat."

Peperangan pun semakin bermaharajalela. Negara-negara non-Barat semakin terbelakang setelah beberapa abad imperialisme Barat. Muncullah masyarakat dan negara yang tidak mengetahui makna kedamaian. Tidak tahu jalan menuju peradaban. Semua ini setelah mereka dipaksa tunduk pada Barat, untuk menjadi pasar tempat menjual hasil-hasil perindustrian dan pertanian Barat, dan untuk menggerakkan pertukaran wang raksasa yang dibangun Yahudi pada abad ke-XVII di AS, dan untuk menjaga dari tersekatnya bahan mentah bagi negara-negara Barat.

Kekuasaan nilai kebendaan, pragmatisme, menjauhkan manusia dari agama Allah, semua ini berperanan besar dalam mengukuhkan penjajahan, yang mengembalikan manusia ke zaman hukum rimba dan perbudakan. Sedangkan istilah-istilah seperti persaudaraan manusia dan tolong-menolong, sangat jauh dari kamus interaksi antara manusia.
Lumpur semakin menghitam dan kebakaran semakin berkobar, ketika pelbagai kepentingan Barat dengan kapitalismenya bertemu dengan kepentingan dan ketamakan projek Zionisme di Dunia Islam. Pertumpahan darah semakin merata di muka bumi. Foto-foto para pelarian dan orang-orang terlantar mendominasi berita tentang umat kita, akibat kecongkakan global serta kediktatoran dan kerosakan dalaman umat.

Kemanusiaan Perlu Penyelamat

Kini, kemanusiaan di bawah kepemimpinan Barat atas dunia sangat memprihatinkan. Aliran darah, kemiskinan, dan kelaparan melebar ke seluruh penjuru dunia akibat nilai pragmatis yang berdasarkan kepentingan kebendaan. Kemanusiaan memerlukan konsep yang mampu menyelamatkannya, menjaga kehidupan, harta, dan menyelamatkan kehormatan yang masih tersisa.

Konsep penyelamat kemanusiaan ada pada Islam. Tidak ada agama yang sangat menjunjung tinggi kemanusiaan selain Islam. Bukan sekadar kata, slogan, atau cita-cita semata, melainkan telah terbukti dalam sejarah. Pengalaman dari sebuah negara terbesar sepanjang sejarah.

Dalam akidah Islam, Rasulullah telah meletakan batu asas persaudaran, persamaan, dan keadilan, sehingga baginda bersabda:

"Wahai sekalian manusia, ingatlah sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu dan bapak kalian adalah satu. Sungguh tidak ada keutamaan Arab atas non-Arab, non-Arab atas Arab, kulit merah atas hitam, dan kulit hitam atas merah, kecuali dengan ketakwaan.” (HR. Ahmad).

Dalam khutbah Haji Widâ‘, Rasulullah meletakkan dasar interaksi sesama manusia yang sangat tinggi, iaitu memuliakan manusia dan apa yang ia miliki. Rasul bersabda,

"Wahai sekalian manusia, dengarlah ucapanku. Sungguh aku tak tahu, boleh jadi aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tahun-tahun mendatang. Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahawa harta dan darah kalian adalah haram (suci) hingga kalian bertemu Allah, sebagaimana sucinya hari kalian ini, sucinya bulan kalian ini." (HR. Ibnu Ishaq).

Islam juga merupakan agama akhlak dan nilai yang menjaga kemanusiaan. Rasul bersabda,

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemulian akhlak..." Inilah nabi kita, dan inilah agama kita.

Bukti sejarah Islam sebagai penyelamat manusia ini tidak hanya pada masa Rasul, tapi juga setelahnya, kerana Islam merupakan madrasah Rabbani yang membentuk generasi.

Inilah Umar bin Khattab, murid dari madrasah an-nubuwwah. Pada suatu hari, Umar melihat seorang warga tua sedang meminta sedekah di pasar yang ramai. Umar bertanya padanya, "Siapakah Anda wahai orang tua?" Orang tua tersebut adalah seorang Yahudi dari Madinah. Ia menjawab, "Saya seorang yang telah terlalu tua. Saya memerlukan jizyah (pajak) dan nafkah." Maka Umar menjawab, “Sungguh kami tidak berlaku adil padamu wahai orang tua. Kami mengambil jizyah darimu di masa muda dan membiarkan dirimu terlunta-lunta di masa tua.”

Lalu Umar membawa orang tua tersebut ke rumahnya, kemudian menghidangnya makanan. Setelah itu Umar mengutus seseorang menuju ke Baitul Mal dan berkata, “Berikanlah orang tua ini dan orang-orang sepertinya keperluan yang memenuhi keperluan dirinya dan keluarganya.”

Dari kisah di atas, Umar r.a. menunjukkan bahawa Islam adalah rahmat dan keadilan bagi pemimpin mahupun rakyat. Masih banyak kisah lainnya yang serupa. Inilah agama Islam yang mana pihak yang membencinya dikesankan dengan kejam dan kesan negatif lainnya. Sedangkan apa yang terjadi pada anak-anak Gaza, Palestina, Irak, Afghanistan, dan lainnya dianggap sebagai "kasih sayang" hukum antarabangsa”.

Wahai Kaum Muslimin Dimanapun Anda Berada

Sungguh amanah yang Anda pikul sangat berat. Setiap kita dituntut untuk optimamkan usaha sesuai posisinya, baik da’ie, politikus, ulama, wartawan, mahasiswa, pengusaha, petani, dan lainnya.

Hendaklah setiap kita melihat kembali situasi sekitarnya. Hendaklah kembali ke agama yang benar. Mengembalikan nilai-nilai Islam sebagaimana Allah turunkan. Rambu-rambu kehidupan yang komprehensif. Bukan hanya akidah, ibadah, dan muamalat saja, akan tetapi seluruh sisi kehidupan manusia. Maka terapkanlah ajaran Islam secara kaffah.

Wahai sekalian manusia... berimanlah kepada Allah, Rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan Hari Akhir. Perbaikilah hubungan sesama manusia. Wahai sekalian anak-anak, perbaikilah hubungan dengan orang tua, keluarga, dan kerabat dekat. Kerana sesungguhnya memperbaiki hubungan sesama manusia adalah ibadah yang agung dan sangat mulia.

Tunaikanlah amanah-amanah secara adil...

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat". (QS. An-Nisa': 58).

Bersungguh-sungguhlah dalam kerja kalian. Rasulullah bersabda,)
"Sesungguhnya Allah mencintai seseorang hamba yang bersungguh-sungguh dalam berkerja.”

Islam tidak hanya memperbaiki umat Islam saja, akan tetapi juga menyelamatkan kemanusiaan secara utuh.

Wahai hamba-hamba Allah, renungkanlah firmah-Nya,

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. Al-Shad: 150)

Risalah dari Dr. Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin
10/12/2009 | 22 ZulHijjah 1430 H

Yusuf Thala’at, Tukang Besi Yang Cintakan Syahid

Saturday, December 5, 2009 0 comments



Yusuf Thala’at atau nama penuhnya Yusuf Izzudin Muhammad Thala’at. Lahir di Bandar Ismailiyyah pada Ogos 1914. Dalam perang Palestin melawan Yahduo Israel, beliau amat digeruni oleh musuh Islam tersebut. Pekerjaan beliau adalah sebagai tukang kayu dan jual beli hasil-hasil pertanian di Mesir


Beliau berkenalan dengan Imam Hasan Al Banna pada tahun 1936. Mulai saat irulah beliau bergabung dengan gerakan Ikhwan Muslimin. Thala’at mengisi waktunya dengan perjuangan tanpa mengnal penat dan lelah, menyebarluaskan kebaikan dan mempertahankan izzatul Islam.


Dalam masa yang sama , agenda utama perjuangan Thala’at adalah permasalahan Palestin. Beliau pernah di tangkap dan dipenjara bersama Hasan Al Banna semasa mengadakan demonstrasi mendukung perjuangan Palestin di Mesir.


Beliau adalah tokoh yang banyak berperanan dalam pelbagai operasi ketenteraan Ikhwan Muslimin dalam melawan tentera Yahudi Zionis, sehingga beliau menjadi sasaran utama perisik-perisik Yahudi dan sekutu mereka.


Pada tahun 1948, Imam Hasan Al Banna, mengerahkan 10000 orang pasukan Al Ikhwan Al Muslimin dari Mesir, Suriah dan negara Arab lainnya untuk berjihad ke Palestin melawan penjajah Zionis Yahudi yang mendapat sokongan dari Inggeris. Yusuf Thala’at termasuk diantara pasukan Al Ikhwan Al Muslimin yang berjumlah 10000 orang tersebut. Beliau merupakan orang yang pertama kali bergegas berangkat jihad ke Palestin bersama sejumlah ikhwan dari Ismailiyah.


Sumbangan beliau dalam perang jihad fi sabilillah tidak diragukan lagi. Beliau pernah memimpin sepasukan pejuang Ikhwan yang bertempur melawan tentera Inggeris di Deir Balh, sejumlah 12 orang pejuang Ikhwan syahid dalam pertempuran tersebut.


Thala’at sangat dikenali sebagai seorang yang pakar dalam penyamaran. Beliau telah berjaya beberapa kali melakukan penyamaran yang amat membahayakan dirinya demi menjayakan misi ketenteraannya dalam melawan Zionis Israel.


Pada tahun 1949, beliau ditangkap sewaktu pulang dari medan jihad di Palestin. Satu konspirasi telah dilakukan oleh Gamal Abdul Nasser bersama Inggeris dengan berusaha menangkap mujahid Ikhwan Muslimin yang dikehendaki oleh Inggeris, antaranya Yusuf Thala’at. Inggeris telah menawarkan hadiah yang besar bagi sesiapa sahaja yang dapat memberikan informasi kedudukan Yusuf Thala’at.


Dalam penjara ketentaraan Mesir, Yusuf Thala’at mengalami penyiksaan yang amat dahsyat. Yang tidak mungkin mampu ditanggung melainkan mujahid sejati.


Ketika sidang sandiwara kehakiman dilakukan ke atas Yusuf Thala’at, Ketua hakim mahkamah, Gamal Salim telah bertanya kepada Yusuf:


“Apa pekerjaan kamu?”   
“Tukang besi yang mahir,” jawab Yusuf.


“Bagaimana mungkin seorang pekerja besi mampu memimpin anggotanya yang kebanyakan para intelektual?”


“Mengapa aneh? Nabi Nuh juga seorang pandai dalam kejuruteraan besi,” jawab Yusuf sehingga menyebabkan hakim pun terdiam.


Lalu hakim bertanya lagi, “Mengapa kamu tidak upaya berdiri?”


“Tanyalah diri kamu sendiri,” jawab Yusuf. Beliau memang tidak mampu berdiri saat itu kerana kedua kakinya cedera parah akibat disiksa oleh pengawal penjara ketenteraan.


Yusuf Thala’at telah dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan yang penuh sandiwara itu. Beliau dijatuhkan hukuman mati bersama sahabat baiknya, Syeikh Farghali pada Disember 1954. Pihak polis melarang orang ramai mengiringi keranda jenazah beliau. Selama enam bulan, pihak polis berkawal di sekitar makam Yusuf Thala’at  dan Syeikh Farghali dalam pos kawalan untuk melarang para penziarah mendatanginya.


“ Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, Dan memasukkan mereka ke dalam jannah yang telah diperkenankanNya kepada mereka. (Q.S: Muhammad: 4-6)


Rujukan: Mozaik Syuhada Ikhwan Muslimin, Prof. Dr. Yusuf Al Wa’y

Ancaman Aliran Fahaman Modenisasi

Friday, December 4, 2009 0 comments


Hendaklah kita sentiasa sedar bahawa jalan hidup kita ialah Islam, dan pegangan serta perlembagaan hidup kita ialah ajaran al Quran dan Sunnah Rasulullah  s.a.w.
Fahaman Islam yang kita bawa dalam hidup kita adalah berdasarkan fahaman Islam yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w dan telahpun diikuti oleh para sahabat ridhuanullah ‘alaihim.

Bukan fahaman-fahaman  lain yang disogokkan oleh musuh-musuh Islam ke dalam masyarakat Islam. Sebagai orang yang beriman kepada Allah s.w.t dan kepada semua prinsip-prinsip (rukun) keimanan, kita mestilah peka dan awas agar kita tidak terjebak ke dalam aliran-aliran faham yang berlawanan /bercanggah dengan Islam.

Satu daripadanya ialah :  Aliran Modenisasi .  Iaitu satu pandangan hidup keduniaan yang mempertuhankan kemodenan (modernity).
Modenisasi sebenarnya mempunyai ciri-ciri dan sifat-sifat yang tersendiri.  Antara sifat-sifat utamanya adalah seperti berikut:

Pertama :  Modenisasi bersifat anti-agama, dan dari segi fikrah Islam, modenisasi menentang Deen, menentang syariat dan menentang sunnah Rasulullah s.a.w.  Bagi seorang modenis, agama dianggap sebagai lambang kekolotan, kemunduran, kebekuan (jumud) dan dianggap mengongkong, membelenggu dan membantutkan perkembangan manusia.

Kedua : Modenisasi juga bersifat ‘sekular’.  Menyingkirkan agama daripada kehidupan manusia atau daripada sebahagiannya.  Agama dijadikan perkara (urusan) individu sahaja dan bukan untuk kehidupan umat dan Negara.  Pemisahan itu telah melahirkan manusia yang melakukan sesuatu perkara atau pekerjaan (perbuatan) bukan lagi kerana Allah , bukan lagi sebagai ibadah kepada Allah, tetapi semata-mata kerana kerja itu sendiri atau kerana tujuan-tujuan yang lain yang bersifat keduniaan.

Ketiga:  Modenisasi juga bersifat ‘humanis’.  Yakni manusia memilik,merancang, melaksanakan sesuatu dan manusialah yang menerima faedah daripada kegiatan hidup  manusia itu sendiri.  Fokus (tumpuan) utama kepada kegiatan hidup manusia di dunia ini sahaja.  Akibatnya manusia tidak lagi memperhambakan diri kepada Allah s.w.t, Pencipta alam ini, tetapi manusia memperhambakan diri  kepada sesama manusia atau sesama makhluk.  Akibatnya lagi manusia menafikan adanya alam ghaib dan perkara ghaib kerana semuanya itu tidak dapat  dikesan / dicapai oleh pancaindera dan rasional manusia (‘aqal dan logik ‘aqal manusia).

Keempat :  Modenisasi juga bersifat kebendaan (materialisma).  Ini merupakan suatu konsep yang menyifatkan bahawa perkara yang wujud ialah benda, tiada yang maujud melainkan benda.  Pandangan hidup seorang ‘materialis’ (orang yang berfaham kebendaan) itu hanya memberi keutamaan kepada kelazatan yang boleh dirasai dan dikecapi melalui pancaindera dan mental atau minda manusia sahaja.  Akibatnya seorang materialis sentiasa menolak perkara-perkara rohaniah dan nilai-nilai rohani atau sekurang-kurangnya mengabaikan perkara-perkara  rohaniah dan nilai-nilai rohani. Kejayaan dalam bidang sains diagung-agungkan.  Kuasa kehendak dan pentadbiran manusia dianggap sebagai kuasa yang dapat menakluki alam (dunia ) ini.

Kelima :  Modenisasi juga bersifat ‘free thinking’ yakni berfikiran bebas dan tidak mahu terikat kepada ‘authority’ atau kewibawaan seseorang yang disebut ‘free thinker’ itu tidak semestinya dia menafikan wujudnya Allah s.w.t tetapi dia tidak mahu terikat kepada penafsiran orang-orang yang ada ‘authority’ (wibawa).  Dalam Islam disebut tafsiran ulama’ muktabar. Bahkan mereka  berfikir sendiri dan membuat tafsiran sendiri mengikut kehendak hawa nafsu sendiri.   Akibatnya, tafsiran dan fatwa ulama’-ulama’ muktabar akan ditolak dan diperkecil-kecilkan atau tidak dihargai.

Di dalam sejarah, telah terbukti bahawa proses modenisasi di negeri-negeri / negara-negara Islam telah bermula apabila jatuhnya pemerintahan Khilafah Uthmaniah di Turki pada tahun 1923 M.  Sejak itu proses modenisasi  menular dan merebak dimulai dengan pembaharuan dan permodenan  yang dilakukan oleh pemerintah pertama bagi Turki moden iaitu Mustafa Kamal Attartuk dan beliau dianggap sebagai reformis modenis yang  telah ternyata  hasil usahanya bukan sahaja  memisahkan agama daripada negara, bahkan lebih jauh daripada itu.  Apa yang dilakukan merupakan proses penghapusan Islam seluruhnya sebagai ‘aqidah dan syariat atau disebut juga sebagai proses ‘De Islamisasi’.
Di dalam Islam ada konsep ‘Islah’ ( اصلاح ) tetapi bukan pembaharuan modenisasi ini.  Konsep Islah bererti berusaha memperbaiki keadaan umat Islam yang telah rosak dan menyeleweng (menyimpang) daripada ajaran al Quran dan Sunnah Rasulullah s.a.w.  Menyimpang daripada apa yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w iaitu dengan cara mengajak umat Islam itu kembali kepada  tahap umat Islam dalam generasi awal Islam dahulu, dibawah pimpinan  dan bimbingan  Rasulullah s.a.w.  Atau sekurang-kurangnya  menghampiri tahap dan keadaan generasi tersebut.  BUKAN mengubah ajaran agama atau Deen Islam itu untuk disesuaikan dengan zaman, tetapi manusialah dan umat ini mestilah mengikhlaskan diri mengubah diri untuk disesuaikan diri mereka dengan ajaran Islam yang  bersumberkan daripada al Quran dan Sunnah Rasulullah s.a.w.
Menurut kacamata syara’, perubahan diri seseorang bermula dari dalam jiwa  barulah akan berlaku perubahan dan pengislahan  dalam kehidupan.  Ini bertepatan dengan Firman Allah s.w.t :
Bermaksud: “ Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
(Surah ar Rad : 11)

Kita dituntut untuk menjadi Musleh ( مصلح )  atau reviver yang berusaha sedaya yang termampu untuk menghidupkan kembali  Ruh dan Deen Islam dikalangan umat ini dalam bentuk yang suci bersih daripada bid’ah ( بدعة ), khurafat ( خرافات ) dan sebarang bentuk penyelewengan.  Kita hanya dituntut berusaha  seupaya  mungkin menakala kejayaan dan hasilnya dipulangkan kepada Allah s.w.t.  Allah s.w.t  sahaja yang menentukan natijahnya.
Firman Allah s.w.t :
Bermaksud: “  Syu`aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya rezki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.
(Surah Hud : 88)

Bermaksud:  “  dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.“
(Surah al An’am : 153)

Berdasarkan kepada ayat tersebut jelaslah bahawa jalan yang benar dan lurus itu hanya satu sahaja iaitu jalan Allah,  manakala jalan-jalan  yang sesat, menyeleweng dan bathil  itu banyak dan bersimpang siur serta bengkang bengkok.  Seperti mana yang  telah diperjelaskan di dalam tafsir “  صفوة التفاسير   “ oleh As Syeikh Muhammad ‘Ali As Shabuni.
Musuh Islam kalangan Yahudi dan Nasrani( اليهود و النصارى ) sudah lama merancang dan berusaha untuk menarik keluar  dan  memutuskan hubungan orang Islam dengan ajaran-ajaran Islam dan sekaligus tunduk dan mengikut telunjuk mereka.  Hal ini telah lama diperingatkan oleh  Allah s.w.t di dalam al Quran al Karim.
Bermaksud:  "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. "
(Surah al Baqarah : 120)

Maksudnya, apabila orang-orang Islam (orang-orang yang beriman) itu mengikut  telunjuk mereka, maka barulah mereka redha dan puashati.
Sayugia disedari bahawa  serangan musuh-musuh Islam  bukan sahaja serangan ganas melalui senjata moden seperti yang telah termaklum berlaku  pada masa ini di Iraq dan Palestin bahkan ada satu lagi serangan yang amat berat kesan dan risikonya iaitu serangan dalam bentuk fikiran atau yang disebut  الغزو الفكرى    (Serangan Pemikiran) yang boleh merosakkan aqidah dan ibadah serta pegangan dan nilai-nilai hidup umat Islam.
Oleh itu kita selaku orang Mukmin perlulah berhati-hati terhadap berbagai aliran pemikiran, samada yang  klasik ataupun yang moden agar kita tidak terjebak dan tidak terperangkap di dalam jaringan  aliran-aliran pemikiran yang menyesatkan dan merosakkan aqidah dan ibadah serta nilai hidup  hakiki umat Islam.   Kita mesti yakin bahawa Islam adalah Islam, Deen Allah s.w.t  tiada label Islam moden dan tiada label Islam kuno. Tiada Islam maju dan tiada Islam mundur.  Kerana Allah s.w.t telah menekankan dalam al Quran :
Bermaksud:  “   Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, kerana kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.  “
(Surah ali Imran : 19)

Islam itulah yang dibawa, disampaikan, didakwahkan, ditarbiyahkan (dididik) oleh Rasulullah s.a.w kepada umatnya.
Untuk selamat  di dunia dan di akhirat, maka kita tiada pilihan yang lain melainkan memilih Deen Islam dan kita perlu kembali kepada  Madrasah dan  didikan Rasulullah s.a.w.

Oleh: Syeikh UOS

Peranan Pemuda Ketika Membawa Risalah Islam

Wednesday, December 2, 2009 0 comments


Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Segala pujian hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. Selawat dan salam yang paling sempurna kepada Sayyidina Muhammad, kepada ahli keluarga dan semua sahabatnya. Kepada generasi yang sentiasa berdakwah menggunakan cara dakwahnya, mendapat petunjuk dengan hidayahnya sehinggalah hari kiamat.

Wahai saudara pembaca yang dimuliakan, tajuk kuliahku pada kali ini ialah ‘Peranan Pemuda Ketika Membawa Risalah Islam’. Wahai saudara!

pewaris haluanJelasnya, para pemuda beriman termasuk dalam tanggungjawab membawa risalah Islam sehinggalah anak-anak perempuan sejantina dengan mereka. Kerana ketika kita sebut sahaja ‘pemuda’, ungkapan kita itu dalam bentuk ‘merangkumi’, sebagaimana yang diperkatakan oleh pakar bahasa, kerana para pemuda lelaki lebih bersemangat, lebih cepat bertindak, lebih bebas keluar serta bergerak, lebih mampu berhimpun dan mengadakan pertemuan.

Mungkin ada orang bertanya dengan katanya, mengapa penulis mengkhususkan lafaznya kepada para pemuda? Mengapa tidak dikatakan, misalnya ‘Peranan Para Lelaki ketika membawa risalah Islam’. Tetapi, penulis tetap berkata, ‘Peranan pemuda … ?!!

Wahai saudara pembaca, ini adalah satu soalan yang betul diterima dan jawapannya dari dua sudut:

Sudut Pertama:


Nabi SAW amat mengambil berat dengan sempurna dalam pembentukan pemuda dan menyediakan mereka untuk membawa tanggungjawab, menyediakan mereka untuk menunaikan amanah menyebarkan dakwah dalam beberapa majlis perjumpaan dan pelbagai lapangan.

a) membentuk mereka untuk bermuraqabah dan bertakwa kepada Allah SWT sama ada semasa bersendirian mahupun ketika bermasyarakat.

Rasulullah SAW bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Ya’la:

(إن الله ليعجب من الشاب الذي ليست له صبوة)

yang bermaksud: “Allah SWT amat takjub melihat pemuda yang tidak melakukan perbuatan ganjil dan menyeleweng.”


b) membentuk mereka agar sentiasa melazimi taat dan beribadah kepada Allah SWT, menyerahkan diri kepada pemeliharaan Allah SWT tentang apa yang akan ditaati dan menenangkan.


Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:

(سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله: وعدد منها: شاب نشأ في عبادة الله)

yang bermaksud: “7 golongan manusia yang akan dilindungi Allah SWT di bawah naungannya pada satu hari yang tidak ada satu perlindungan pun melainkan naungan Allah SWT. Bilangan itu antaranya ialah pemuda yang dibesarkan dalam suasana beribadah kepada Allah SWT.”


c) berdakwah kepada pemuda agar merebut peluang untuk membentuk peribadi mereka dari segi kerohanian, jasmani, pemikiran, akhlak dan psikologi.


Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Hakim:

(اغتنم خمسا قبل خمس: حياتك قبل موتك، وصحتك قبل سقمك، وفراغك قبل شغلك، وشبابك قبل هرمك، وغناك قبل فقرك)

yang bermaksud: “Rebutlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara lain, iaitu kamu masih hidup sebelum kamu mati, kamu sihat sebelum kamu sakit, kamu ada masa lapang sebelum kamu sibuk, kamu masih muda sebelum kamu tua dan kamu kaya sebelum kamu miskin.”


d) memuhasabah pemuda dan tanggungjawab mereka di hadapan Tuhan semesta alam pada hari pembentangan kepadanya.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Termizi:

(لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن أربع: عن عمره فيما أفناه، وعن شبابه فيما أبلاه، وعن ماله أين اكتسبه وفيما أنفقه، وعن علمه ما عمل فيه)

yang bermaksud: “Pada hari kiamat nanti, dua belah kaki seseorang hamba tidak dapat bergerak sehinggalah dia akan disoal tentang 4 perkara, iaitu bagaimanakah dia menghabiskan umurnya, bagaimanakah dia mengambil berat terhadap masa mudanya, di manakah dia mencari harta serta bagaimanakah dia menafkahkannya dan adakah dia mengamalkan ilmunya.”


e) menjaga jiwa pemuda daripada sifat lemah, bodoh (atau pondan) dan bebas menyeleweng, memelihara pemuda dengan menggalakkan berkahwin yang disyarakkan Allah SWT.



Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Jamaah:

(يا معشر الشباب! من استطاع منكم الباءة (أي القدرة على الزواج) فليتزوج، فإنه أغض للبصر، وأحصن للفرج ... )

yang bermaksud: “Wahai kumpulan pemuda! Sesiapa antara kamu yang mampu berkahwin, kahwinlah. Kerana berkahwin dapat meredupkan pandangan mata dan memelihara kehormatan …”



Yang demikian, wahai saudara pembaca, fokus reformasi yang lebih penting ialah Rasulullah SAW menyediakan para pemuda, membina peribadi kemanusiaannya untuk membentuk peribadi mereka berjiwa masyarakat. Pastinya, matlamat yang ada di sebalik ini ialah pembinaan dan penyediaan sehingga terjelma para pemuda dalam pembentukan yang sempurna dari sudut kerohanian, akhlak, akal pemikiran, jasmaniah, kejiwaan dan semua sudut penyempuraan peribadi. Pembentukan yang sempurna ini menjadikan para pemuda lebih mampu memikul amanah, lebih kuat menunaikan tanggungjawab, lebih teguh meneruskan segala dasar Islam, tidak merasa terhina, tidak lemah, tidak mundur ke belakang, tidak goyah bersama tiupan angin fitnah, tidak menyerah diri kepada tipudaya kerosakan, tidak terdedah kepada perasaan putus asa, tidak putus harapan, kakinya tidak tergelincir ke lembah perbuatan menyeleweng dan bersifat lemah.

Begitulah agar para pemuda tetap mantap, teguh, penuh keyakinan, bersungguh-sungguh, tekun ketika membawa risalah sehinggalah Allah SWT mematikannya dalam keadaan yang mulia atau meletakkan di sampingNya dalam keadaan syahid!!


Sudut Kedua:


Para pemuda yang berada di setiap masa dan tempat, di semua peredaran sejarah sehinggalah ke zaman kita ini merupakan tiang umat Islam, rahsia kebangkitan, sumber kemuliaan dan ketamadunan, pembawa panji-panji dan bendera, ketua pencetus keagungan dan kemenangan.

Wahai pemuda Islam! Adakah anda tahu bahawa generasi beriman yang berpusat di Darul Arqam pada permulaan dakwah terawal adalah terdiri daripada para pemuda, pemuda yang berumur sekitar 30-an pada peringkat kemudaan mereka, dapat mengelakkan dari kejahatan pandangan mata, jauh dari kesalahan hayunan kaki, sebuah kelompok beribadah, jemaah berakhlak, umat yang sabar, menyampaikan dakwah dan berjihad !!

Wahai pemuda! Adakah anda tahu bahawa Islam tidak akan dapat memartabatkan panji-panji pada seseorang kemanusiaan, tidak dapat memanjangkan tempoh kekuasaan di bumi dan tidak dapat menyebarluaskan dakwah di seluruh alam kecuali di bawah peranan yang dimainkan oleh kekuatan generasi beriman ini yang terdiri daripada para pemuda yang diasuh dalam madrasah Nabi SAW dan lulusan dari universitinya yang amat lengkap.

Ketika Allah SWT mewahyukan darjat kenabian kepada Rasulullah SAW, baginda SAW berusia 40 tahun, iaitu satu peringkat umur kematangan seseorang pemuda. Sayyidina Abu Bakar RA lebih muda 3 tahun daripada Rasulullah SAW, umur Sayyidina Umar RA pada hari beliau memeluk Islam ialah 27 tahun, Sayyidina Uthman RA lebih muda daripada Rasulullah SAW dan Sayyidina Ali RA adalah lebih muda dari semuanya. Begitu juga dengan Abdullah bin Mas’ud RA, Said bin Zaid RA, Abdul Rahman bin Auf RA, Bilal bin Rabah RA, Mus’ab bin Umair RA dan puluhan para sahabat RA lainnya, malahan ratusan, semuanya adalah golongan pemuda.

Generasi pemuda daripada golongan terawal itu merupakan mereka yang membawa panji-panji dakwah Allah SWT dan memartabatkan bendera jihad yang suci, lalu Allah SWT menunaikan hak kemenangan besar dan negara Islam pemuda di bawah dayausaha mereka. Wahai pemuda, anda semua tahu dua buah kerajaan terbesar Parsi (Iran) dan Rom, memasukkan negara Syam (Syria, Palestin, Lubnan dan Jordan), Mesir, Iraq, Tarabulus (kawasan barat Libya) dan utara benua Afrika di dalam keadilan Islam adalah dengan kekuatan para pemuda. Ini semunya dapat dicapai dalam masa 35 tahun semasa zaman pemerintahan Khalifah ar-Rasyidin.

Pada zaman kerajaan Bani Umaiyyah, kerajaan mereka semakin luas melaut dan kesultanan mereka semakin lebar sehingga termasuk negara Sind, kebanyakan negara-negara India, negara Turkistan (sekarang dibahagi-bahagikan antara China dan Russia), sampai ke sempadan perbatasan negara China. Ini di di sebelah timur, sementara di sebelah baratnya pula termasuk negara-negara Andalus (Semenanjung Iberia secara umumnya, iaitu Perancis dan Portugal) dan Eropah. Salah seorang khalifah seperti Harun ar-Rasyid dapat mentasawwurkan kepada dunia sejagat tentang keluasan dunia Islam Didapati, dia pernah berbicara dengan awan yang sedang berarak di atasnya, tetapi tidak menurunkan hujan, lalu dia berkata kepada awan tersebut, “Turunkanlah hujan di mana sahaja engkau suka. Hasil hujanmu yang turun akan membawa banyak air kepada kami.”

Sehingga pembukaan mereka sampai ke akhir negara barat. Uqbah bin Naf’ie berdiri di tebing Lautan Atlantik berbicara kepada lautan, selepas kudanya ditenggelami air, dia berkata, Wahai Tuhan Muhammad! Jika tidak kerana lautan ini, nescaya aku akan menawan dunia semata-mata hendak memartabatkan kalimahMu. Ya Allah! Saksikanlah !!”.

Qutaibah al-Bahili yang dapat menembusi ke kawasan pedalaman terakhir di timur. Dia enggan kecuali dapat memasuki negara China. Salah seorang pengikutnya berkata kepadanya mengingatkan dengan rasa kasihan, “Ya Qutaibah, engkau dapat memasuki negara Turki. Beberapa pertempuran berlaku antara perubahan situasi masa antara baik maju ke depan dan buruk mundur ke belakang.” Qutaibah menjawab dalam keadaan iman telah memenuhi semua ruang dadanya, “Dengan kethiqahan aku terhadap bantuan Allah, aku akan terus menawan sampai ke pedalaman. Jika tempoh masa sudah habis, hendak mengira pun tidak guna lagi.” Bila pengikutnya yang memberikan ingatan dan belas kasihan itu melihat keazaman dan kehendak Qutaibah untuk terus maju ke hadapan semata-mata hendak meninggikan kalimah Allah SWT dan berjihad di atas muka bumi, pengikutnya berkata kepadanya, “Teruskanlah perjalananmu ke mana yang engkau suka, ya Qutaibah. Ini adalah satu keazaman yang tidak ada siapa boleh menggagalkannya kecuali Allah !!

Wahai saudara pemuda! Peristiwa ini hanya akan dapat dicapai berdasarkan keimanan, keazaman, pengorbanan, jihad dan ketangkasan generasi pemuda. Allah Akhbar adalah seruan mereka, jihad adalah jalan mereka dan mati syahid pada jalan Allah adalah impian mereka yang terunggul.

Alangkah indahnya apa yang dibicarakan oleh penyair Islam, Muhammad Iqbal untuk mencetuskan hak mereka sebagai pahlawan yang berani, para pemuda yang gagah dan bergerak tangkas:

Siapa dia yang menghunus pedang untuk memartabatkan namaMu,
Mengatasi kepahlawanan pelbagai bintang di menara.
Kami laksana benteng di banjaran gunung dan mungkin

Kami merenangi gelombang lautan dalam,

Untuk menawan gereja-gereja Eropah. Sebelum itu kita melaungkan azan

Sebelum pasukan angkatan tentera membuka beberapa buah bandar.

Jangan engkau lupakan benua Afrika, jangan juga padang pasirnya

Yang menjadi tempat solat kami, tanah yang mengeluarkan bahang api.

Kami mendedahkan dada-dada kami untuk pedang-pedang (lawan),

Kami tidak gentar walau satu hari kepada kuasa zalim atau pemeras.

Seolah-olah naungan pedang bagaikan naungan sebuah taman syurga,

Yang menghijau dengan di sekitarnya ditumbuhi bunga-bungaan.


Jangan engkau takutkan kuasa thagut yang memerangi kami, sekalipun

Kami menghadapi kematian di atas kami benteng kota.

Kami berdoa dengan terang-terangan, tidak ada Tuhan selain dari Yang

Mencipta segala makhluk dan Penetap segala kadar ketentuan.



Wahai Tuhanku! Kepala-kepala kami berada di atas kain kapan kami,

Kami mengharapkan pahalaMu, dapat harta rampasan atau syahid di sisiMu.



Begitulah keadaan para sahabat RA dan begini jugalah sewajarnya yang dilakukan oleh generasi selepas mereka. Wahai para pemuda Islam hari ini! Anda semua mesti melakukan perbuatan sebegini jika anda hendakkan agama anda mencapai kemenangan, umat anda mencapai kemuliaan, kesatuan yang sempurna dan tersusun bagi semua kaum Muslimin. Allah SWT tidak sukar melakukan semuanya itu.


Wahai para saudara pemuda !! seseorang pemuda tidak mungkin mampu melaksanakan peranan, membangkitkan tanggungjawab dan melaksanakan risalahnya melainkan selepas melengkapkan keperibadiannya dari segi ilmiah, dakwah dan urusan sosial secara sama rata.


Penulis tidak sempat hendak membicarakan semua sudut untuk melengkapkan peribadi bagi seseorang pemuda pendakwah kerana ruangan tidak mencukupi dan waktu terlalu terhad, tetapi apa yang menjadi tumpuan penulis untuk dibicarakannya mempunyai kaitan yang kukuh dengan tajuk kuliah iaitu pelbagai faktor untuk membina peribadi pemuda dakwah yang disediakan untuk menjadi seorang pendakwah dan boleh membawa risalah Islam di atas permukaan bumi dengan sifat benar serta amanah. Janganlah takutkan terhadap celaan golongan yang sentiasa mencela semata-mata kerana Allah SWT.

Dr. Abdullah Nasih Ulwan

Kesilapan Pemuda Dalam Medan Amal Dakwah (2)

Saturday, November 21, 2009 0 comments



 4- Penguasaan Juziyyah ke atas Kulliyyah
Iaitu gejala memburukkan wajah gerakan Islam dengan adanya sebahagian dari pemuda Islam yang hanya menekankan suatu sudut tertentu dari Islam dan tidak memandang kepada sudut-sudut lain. Ada di antara mereka yang hanya  enekankan kepada pakaian Islam dan apa-apa yang berhubung dengannya sahaja, atau yang lain menekankan soal janggut, tasbih dan kayu sugi (siwak) dan tidak yang lain, sedangkan sebahagian lain menekankan cara kekerasan dan kekuatan material dan tidak kepada yang lain, sedangkan yang lain pula menekankan kepada kehidupan secara rahib dan tasawuf, yang lain menekankan fiqh dan tafaqquh. Kesemuanya mendakwa bahawa merekalah yang benar dan orang lain salah.
Sepatutnya dalam pentarbiyahan pemuda hendaklah ditekankan supaya mengambil Islam keseluruhannya dan sekaligus. Mengikut prioriti/keutamaan yang mana lebih penting untuk diberikan keutamaan serta meletakkan setiap perkara itu pada skop dan kedudukannya yang syarie.

5-Penguasaan Peribadi ke atas Ideologi
Antara gambaran buruk lain ialah ikutan kepada peribadi, melampau dalam taksub kepada manusia di mana ada segolongan pemuda Islam yang taksub kepada peribadi-peribadi (Askhas) bukannya, prinsip (mabadi'). Mereka bergantung kepada peribadi itu lebih daripada pergantungan mereka kepada mabadi' (prinsip). Ini membawa kepada sebab utama mengapa tidak ada penuh
kesetiaan atau kepatuhan (wala') kepada Allah. Mereka ini berpihak kepada puak, taksub kepada individu-individu dan nama-nama, bukannya kepada apa yang disyariatkan oleh Allah.

- Dari bahaya gejala ini dan natijah buruknya ialah berlakunya percanggahan dan pecah-belah dalam tubuh harakah Islamiyyah dan timbulnya penyakit yang banyak dalam amal Islami serta banyak wadah dan bendera.

- Dari bahaya gejala ini juga ialah rosaknya neraca hukuman syarak atau menghukum menurut kaca mata Islam, di mana taksub kepada individu dan hawa nafsu telah mengganti tempat yang sepatutnya diisi oleh taksub kepada prinsip dan nilai.

- Begitu juga gejala ini turut mendedahkan merekaitu ke arah penyelewengan terus natijah daripada apa yang telah kita sebutkan di atas.

Dari sinilah mungkin kita dapat faham kata-kata Abu Bakar as-Siddiq, 'Sesiapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka Allah hidup tidak mati.' Lalu beliau pun membaca firman Allah swt:

"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berpaling ke belakang (murtad). Barangsiapa yang paling ke belakang maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."

Kaedah yang sewajibnya menentukan hubungan kita, dan penilaian kita terhadap pimpinan ialah wajib mengenali makhluk berdasarkan 'haq' yakni kebenaran dan bukannya mengenal kebenaran melalui makhluk.

6- Penguasaan Hawa nafsu atas Kebenaran
Di sana terdapat suatu lagi gejala lain yang memburukkan wajah gerakan Islam iaitu manusia lebih suka mengikuti kemahuan dan nafsunya sendiri serta fikirannya walaupun bertentangan dengan pandangan 'qiadah' (pimpinan). Sedangkan tarbiyah Islamiyyah mewajibkan supaya ia digantikan dengan keinginan peribadi dan kemahuan sendiri dengan kepatuhan (wala’) sepenuhnya kepada Allah seperti yang dimaksudkan dalara firman Allah:

"Tidaklah patut bagi seseorang mukmin itu, lelaki atau perempuan mempunyai pilihan lagi jika sekiranya telah dihukum oleh Allah dan RasulNya dalam sesuatu perkara tentang urusan mereka." (S 33.36)

7- Antara Apa Yang telah Berlaku dengan Apa Yang Akan Berlaku
Satu lagi gejala yang memburukkan sahsiah Islamiyyah hari ini ialah dengan menerima realiti dan tunduk kepadanya. Ini menjadikan natijah dan hasil yang semata-mata bergantung kepada apa yang ada, bukan apa yang sepatutnya (sewajibnya) berlaku. Dalam banyak keadaan, logik ini menyekat perjalanan harakah dan tidak sampai kepada matlamatnya, kerana perencanaan dalam keadaan ini mengikut asas kemampuan yang ada bukannya kemampuan yang sepatutnya ada.

Perbezaan antara dua keadaan itu seperti perbezaan antara Haq dan Batil. Oleh sebab itu pemuda Islam wajib ditarbiyyah dan dididik supaya bercita-cita tinggi atas kebenaran dan merasa mulia dari kebatilan. Mereka juga harus dididik supaya tidak menggadaikan haq kepada waqi’ untuk membolehkan mereka melaksanakan Perubahan Islam yang dicita-citakan.

Kesilapan Pemuda Dalam Medan Amal Dakwah (1)

Tuesday, November 17, 2009 0 comments


Persediaan untuk pemuda Islam bagi menghadapi cabaran dan melakukan perubahan Islam yang dicita -citakan itu, sewajibnya menepati segala jaminan untuk menjadikannya mampu membentuk 'Sahsiah Islamiyah' yang sejajar dengan peranan-yang telah diamanahkan kepadanya.

Sesungguhnya ‘Sahsiah Islamiyyah’ kini telah ditimpa gambaran buruk yang mengakibatkan kepada terbantutnya peranan yang sejati ini juga membawa kepada penggunaan tenaga pada perkara-perkara ranting (juz'i) yang membawa kepada hilangnya kemampuan untuk mengikuti jalan hingga ke hujung perjuangan atau boleh membawa kepada natijah-natijah buruk.

Antara rencana persediaan yang mesti diberikan perhatian yang kebiasaannya telah menyebabkan wajah buruk kepada Sahsiah Islamiyyah, dan dikhususkan kepada pemuda Islam ialah:-

1- Penguasaan Idealisme Negatif terhadap Harakah
Ianya adalah pemisahan yang berlaku terhadap sebahagian pemuda Islam di antara idealisme yang berbentuk teori yang menjadikan mereka abai dari beriltizam secara amali. Akibatnya tidak ada kesan langsung di bidang penghasilan haraki. Sebahagian yang lain pula menyepikan diri mereka ke dalam ruangan yang sempit di dalam "Idealisme" yang menyebabkan mereka tidak akan sampai kepada kenyataan atau menuju kepada ideal itu. Mereka ini tidak menggunakan tenaga mereka yang sepatutnya mereka gunakan untuk bergerak dan menghasilkan sesuatu.

Sesungguhnya ada seorang muslim pada zaman nubuwah telah mengasingkan dirinya di atas sebuah bukit. Maka dia berjumpa dengan Rasulullah saw lalu baginda bersabda:

'Kesabaran seseorang dari kamu satu saat di suatu tempat jihad lebih baik daripada beribadat enam puluh tahun.'

Rasulullah saw tidak akan memilih antara dua, kecuali jalan tengah selagi ia tidak bertentangan dengan syariat Allah. Antara wasiat Rasulullah saw yang masyhur:

‘Sedikit yang berterusan lebih baik daripada banyak yang berputus-putus.'

Keimanan mewajibkan bergerak (harakah) dan mengeluarkan hasil (intaj), jika tidak maka ia menjadi iman yang kurang dan disyaki. Ini adalah berdasarkan kepada ayat-ayat di dalam kitab Allah yang mana setiap ayat mengenai iman, disyaratkan dengan amal. Cukuplah sebagai bukti firman Allah:
"Tidak ada kebaikan pada banyaknya doa' (munajat) mereka itu kecuali mereka yang diperintahkan dengan bersedekah."

2- Penguasaan Teori ke atas Realiti
Daripada gambaran buruk ‘Sahsiah Islamiyyah’ juga ialah, berfikir pada bekas yang jumud yang sesuai dengan waqi' (realiti) atau tidak atau sesuai dengan realiti lain. Ini membawa terpisahnya para teoris itu dari realiti kehidupan, atau mereka gagal dalam mengubah realiti (waqi'), kerana mereka tidak memahami atau mengkaji realiti yang sebenar. Perubahan Islam tidak mungkin tercapai
melalui teori yang jahil dengan realiti dan juga latar belakang serta kekuatan-kekuatan yang menguasai suasana itu.

Kadangkala golongan ini menganggap kegagalan mereka sebagai takdir dari Allah, dan pada mereka cukuplah untuk menjadi 'ghuraba' (dagang) pada akhir zaman, atau cukup untuk mereka berada atas jalan 'haq' (kebenaran) walaupun mereka tidak dapat menguasai kebatilan atau mengubahnya.

Pada hakikatnya mereka tidak mengambil sebab-sebab yang membolehkan berlakunya perubahan itu. Mereka tidak menggunakan piawai yang ditentukan Allah untuk perubahan. Mereka menganggap sesuatu perubahan itu sebagai suatu keadaan mukjizat yang mungkin berlaku tanpa penat dan payah, seolah-olah mereka tidak mengambil ingatan terhadap firman Allah swt:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum itu sehingga mereka itu mengubah apa yang ada dalam diri mereka."

Menghubungkan sebab dengan musabab, serta menggunakan segala sebab yang ada khususnya dalam peranan penting seperti Perubahan Islam ini merupakan suatu kaedah asal dalam agama Allah yang tidak harus dilupakan, atau dicuaikan atau dipermudahkan. Ini disebut sendiri oleh Al-Quran:

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah nikmat yang diberikan kepada sesuatu kaum melainkan mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka."

3- Keterlaluan mengatasi kesederhanaan
Salah satu dari rupa buruk Sahsiah Islamiyyah hari ini ialah gejala keterlaluan yang tidak ada kesederhanaannya. Gejala ini mungkin merupakan gejala yang paling merbahaya kepada harakah Islamiyyah malah kepada Islam sendiri.

Kadang-kadang gejala ini wujud dalam skop keyakinan peribadi terhadap Islam, yang akan membawa kepada 'ghuluw' (melampau). Rasulullah saw telah mengingatkan:

‘Sesungguhnya agama itu keras, maka masuklah kamu ke dalamnya dengan lemah-lembut. Berjagalah! Binasa orang yang berjalan meraba-raba.’

Kadang-kala gejala ini timbul dalam bentuk amal dakwah dan usaha menarik orang kepada Islam, yang membawa kesan sebaliknya. Ianya menjadikan orang bertambah liar bukan bertambah dekat. Ini adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah saw seperti yang ditunjukkan oleh al- Quran:

"Serulah (manusia) kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan berbincanglah (berdialog) dengan mereka itu dengan cara yang lebih baik." (S 16.125)

"Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekeliling kamu." (S 3.159)

"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min." (S9:128)

Kadang-kala gejala ini timbul di dalam keadaan menghapuskan kemungkaran, samada secara serpihan (juzi'i) atau keseluruhan (kulli), iaitu sebelum cukup sempurna persediaan yang perlu untuk kerja tersebut. Maka ini menyebabkan harakah menerima 'mihnah' (tribulasi) dan cabaran yang lebih besar yang mana harakah Islam ini belum lagi bersedia untuk menghadapinya.

Pada hakikatnya, gejala ini banyak mengandungi risiko terhadap harakah Islamiyah pada zaman sekarang dan terpaksa dibayar dengan harga yang mahal, paling sedikit gejala ini akan melambatkan amal dan menghentikan perjalanan' sama ada secara juzi'i atau kulli (separuh atau keseluruhan).

Ciri Dai'e Yang Iltizam Dengan Dakwahnya

Wednesday, November 11, 2009 0 comments




Imam Hasan al-Banna mengatakan: "Saya dapat menggambarkan sosok mujahid adalah seorang yang dalam situasi mempersiapkan dan membekali diri, berfikir tentang keberadaannya pada segenap dinding hatinya. la selalu dalam keadaan berfikir. Waspada di atas kaki yang selalu dalam keadaan siap. Bila diseru ia menyambut seruan itu.



Waktu pagi dan petangnya, bicaranya, keseriusannya, dan permainannya, tidak melanggar arena yang ia persiapkan diri untuknya. Tidak melakukan kecuali misinya yang memang telah meletakkan hidup dan kehendaknya di atas misinya. Berjihad di jalannya.

Anda dapat membaca hal tersebut pada raut wajahnya. Anda dapat melihatnya pada bola matanya.  Anda dapat mendengarnya dari ucapan lidahnya yang menunjukkanmu terhadap sesuatu yang bergolak dalam hatinya, suasana tekad, semangat besar serta tujuan jangka panjang yang telah memuncak dalam jiwanya. Jiwa yang jauh dari unsur menarik keuntungan ringan di sebalik perjuangan.



Adapun seorang mujahid yang tidur sepenuh kelopak matanya, makan seluas mulutnya, tertawa selebar bibirnya, dan menggunakan waktunya untuk bermain dan kesia-siaan, mustahil ia termasuk orang-orang yang menang, dan mustahil tercatat dalam jumlah para mujahidin."

Da’i Yang Bergerak Kerana Allah swt.

Adalah seorang da'i itu adalah yang berlari memohon syahadah kepada Allah swt. di saat melakukan tugas da'wah ilallah. Sebagaimana syahidnya 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi radhiallahu'anhu yang menda'wahkan kaumnya kepada Islam. 'Urwah adalah satu dari dua tokoh besar kaum musyrikin yang disebutkan dalam firman Allah, tentang perkataan kaum musyrikin:


"Dan mereka berkata, "Mengapa al-Qur'an tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makah dan Thaij) ini?" (QS. az-Zukhruf: 31)


Ketika ia menyatakan dirinya bergabung bersama Islam, sekaligus menda'wahkan kaumnya kepada Islam, bertubi-tubi tombak dan anak panah dari segala arah merobek tubuhnya hingga syahid.

Da’iyah yang Memiliki Semangat Tinggi

Anggota harakah Ikhwan, harus mempunyai semangat tinggi sebagaimana semangat al-Aslami  adhiallahu ‘anhu yang pernah diceritakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah: “Bila anda ingin melihat  tingkatan semangat, lihatlah semangat Rabi'ah bin Ka'b al-Aslami radhiallahu'anhu. Rasul saw. berkata: "Mintalah kepadaku." Ka'b mengatakan: "Aku ingin menjadi pendampingmu di.syurga." Sementara orang lain ada yang meminta makanan dan pakaian.


Da'i yang Memegang Teguh Janjinya

Seorang akh, dibina untuk mengerti dan melaksanakan sikap sidiq, sebagai sikap mulia para sahabat ridhwanullahi'alaihim.

Seperti kisah Anas bin Nadhr radhiallahu'anhu yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik. Bahawa Anas bin Nadhr, tidak hadir dalam peperangan Badar. Beliau mengatakan:


"Aku tidak ikut dalam perang pertama yang disaksikan Rasulullah saw. Bila Rasulullah kembali  berperang melawan kaum Quraisy setelah Badar, niscaya Allah 'Azza wa Jalla akan memperlihatkan apa yang akan kuperbuat."


Di saat perang Uhud, umat Islam menderita kekalahan. Seseorang berkata kepada Sa'ad bin Mu'adz radhiallahu'anhu: "Wahai Sa'ad hendak kemana anda?" "Saya ingin menghampiri aroma syurga di balik Uhud.' Sa'ad berangkat hingga syahid. Di tubuhnya terdapat lebih dari delapan puluh luka akibat  pukulan pedang, tombak dan anak panah. Hingga jasadnya tak dikenal lagi oleh saudari perempuannya, kecuali melalui pakaiannya.

Lalu turunlah firman Allah swt. :  

“Di antara orang-orang mu'min ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya.” (QS. aI-Ahzab: 23)


Demikianlah seharusnya sikap teguh terhadap janji.

Rukun Faham

Tuesday, November 3, 2009 0 comments


Apa Yang Saya Maksudkan Dengan Faham:

Faham yang dimaksudkan ialah anda yakin fikrah atau gagasan anda adalah sepenuhnya berlandaskan Islam. Anda faham Islam sebagaimana yang kami faham, dalam skop dua puluh usul yang ringkas seringkas-ringkasnya ini:

1. Islam adalah satu sistem yang bersepadu mencakupi seluruh aspek kehidupan. Islam adalah negara dan tanahair atau kerajaan dan rakyat. Islam adalah akhlak dan kekuatan atau rahmat dan keadilan. Islam adalah pengetahuan dan undang-undang atau ilmu dan kehakiman. Islam adalah benda dan harta atau pendapatan dan kekayaan. Islam adalah jihad dan dakwah atau tentera dan gagasan. Selain itu Islam juga adalah akidah yang sejahtera dan ibadah yang sahih.

2. Al-Quran al-Karim dan sunnah yang suci adalah rujukan setiap muslim untuk memahami hukum-hakam Islam. Al-Quran perlu difahami menurut kaedah bahasa Arab tanpa mengada-adakan atau keterlaluan. Sementara sunnah pula perlu difahami melalui ahli hadis yang dipercayai.

3. Iman yang benar, ibadat yang sahih dan mujahadah mengandungi cahaya dan kemanisan yang diberikan Allah ke dalam hati hambaNya yang dikehendaki. Namun ilham, lintasan hati, kasyaf dan mimpi bukanlah dalil hukum syarak dan tidak diambil kira kecuali jika tidak bercanggah dengan hukum-hukum dan nas-nas agama.

4. Tangkal, jampi, kulit kerang yang dijadikan pendinding, menilik dengan cara melukis di pasir, tenung nasib, sihir dan dakwaan mengaku mengetahui perkara ghaib, semua ini adalah amalan sesat yang wajib diperangi, kecuali jampi yang menggunakan ayat al-Quran atau hadis yang ma’thur.

5. Pendapat imam atau wakilnya dalam perkara yang tiada nas ataupun nas tersebut mempunyai pelbagai maksud dan dalam soal masalih mursalah (kepentingan umum) boleh dilaksanakan selagi tidak bertentangan dengan asas syarak. Pendapat ini mungkin berubah mengikut keadaan, budaya dan adat. Asas dalam soal ibadat ialah pengabdian (ta’abbud) tanpa perlu melihat kepada maksud. Sementara dalam soal yang lain ia perlu melihat kepada sebab, hikmah dan maksud.

6. Kata-kata manusia boleh diterima dan boleh ditolak kecuali kata-kata manusia yang maksum iaitu Nabi s.a.w. Segala yang datang daripada generasi silam yang diredai Allah jika bertepatan dengan kitab dan sunnah kita akan terima. Jika tidak kitab Allah dan sunnah rasulNya lebih utama untuk diikut. Walau bagaimanapun kita tidak akan mengecam atau mengkritik mana-mana individu yang tidak sependapat. Kita serahkan kepada niat mereka.Mereka telahpun menyampaikan apa yang telah mereka kemukakan..

7. Setiap orang Islam yang masih belum mencapai tahap ahli nadzar iaitu dapat mengkaji dalil-dalil hukum dalam masalah furu’ hendaklah mengikut salah satu imam dalam agama ini. Namun demikian adalah lebih baik selain mengikut dia berusaha sedaya upaya untuk memahami dalil-dalil tersebut. Dia juga perlu menerima segala tunjuk ajar yang disertakan dengan dalil setelah dipastikan orang yang menunjuk ajar itu adalah orang yang berkebolehan dan berkelayakan. Jika dia memang adalah ahli ilmu dia hendaklah mengatasi kelemahannya dalam bidang ilmu supaya dia mampu mencapai tahap yang membolehkan dia mengkaji.

8. Perbezaan pendapat fikah dalam soal yang kecil tidak sepatutnya menjadi sebab untuk berpecah. Perbezaan pendapat ini tidak sepatutnya menimbulkan permusuhan dan persengketaan kerana setiap mujtahid akan mendapat pahalanya. Namun tidak salah untuk membuat kajian ilmiah dalam masalah-masalah yang dipertikaikan selagimana ia dilakukan dalam suasana penuh kemesraan dan saling bekerjasama untuk mencari kebenaran. Dengan syarat ia tidak menimbulkan perselisihan yang tidak diingini dan budaya taksub.

9. Setiap masalah yang tidak membuahkan amalan tidak perlu dibincangkan secara mendalam kerana tindakan itu dianggap membebankan diri yang dilarang oleh syarak. Ini termasuklah tindakan mencambah hukum-hakam yang masih belum berlaku, mengkaji maksud ayat-ayat al-Quran yang masih belum dicapai oleh sains, berbincang mengenai kemuliaan seorang sahabat berbanding sahabat yang lain dan persengketaan yang berlaku di kalangan mereka. Setiap sahabat ada kelebihan mereka sebagai seorang sahabat nabi dan mereka akan mendapat pahala bergantung kepada niat mereka. Begitu juga dengan takwil yang dibenarkan.

10. Mengenali, mengesakan dan mensucikan Allah Taala adalah akidah Islam yang paling suci. Semua ayat dan hadis sahih yang menyebut tentang sifat Allah dan apa sahaja yang berkenaan dengannya kita yakini sepertimana yang disebutkan itu tanpa kita tafsirkan mengikut kehendak kita atau kita tolak sama sekali. Kita tidak akan libatkan diri kita dalam perselisihan pendapat di kalangan ulama. Kita sepatutnya meniru sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w. dan para sahabat baginda.

"Dan orang-orang yang tetap teguh serta mendalam pengetahuannya dalam ilmu-ilmu agama, berkata: Kami beriman kepadanya, semuanya itu datangnya dari sisi Tuhan kami." (Aali Imran: 7)

11. Setiap amalan bid‘ah yang dimasukkan ke dalam agama Allah dan tidak berasas (diamalkan oleh manusia kerana mengikut selera mereka sama ada mereka menokok tambah atau mengabaikannya) adalah sesat dan perlu diperangi serta dihapuskan dengan cara yang terbaik dan tidak membawa kepada keadaan yang lebih buruk.

12. Bid‘ah yang dilakukan dengan cara menambah ataupun meninggalkan atau beriltizam dengan mengamalkan sesuatu ibadat merupakan masalah perbezaan pendapat dari sudut fikah. Masing-masing mempunyai pendapat yang tersendiri. Namun tidak salah untuk mencari kebenaran dengan berpandukan dalil dan bukti.

13. Mengasihi, menghormati dan memuji orang-orang yang soleh kerana amalan baik yang mereka lakukan adalah suatu amalan mendekatkan diri dengan Allah Taala. Apa yang dimaksudkan dengan wali ialah mereka yang disebutkan oleh firman Allah:

"(Wali-wali Allah itu ialah) orang-orang yang beriman serta mereka pula sentiasa bertaqwa." (Yunus: 63)

Karamah berlaku pada mereka dengan syarat-syarat yang ditetapkan oleh syarak. Namun perlu diyakini mereka yang diredai oleh Allah ini tidak mampu mendatangkan kemudaratan dan kemanfaatan untuk diri mereka sendiri ketika hayat mereka dan juga setelah kematian mereka, apatah lagi untuk melakukannya kepada orang lain.

14. Menziarahi kubur adalah sunnah dan disyariatkan dengan cara yang dinyatakan oleh sunnah. Walaupun bagaimanapun meminta bantuan ahli kubur walau siapapun mereka atau menyeru nama mereka atau meminta sesuatu hajat daripada mereka dari dekat atau jauh atau bernazar untuk mereka atau membuat binaan atas kubur atau menyelimutkan kubur atau memasang lampu di kubur atau menyentuh dan mengucup kubur itu atau bersumpah dengan nama yang lain daripada nama Allah atau apa sahaja bid‘ah yang berkenaan dengannya adalah dosa besar yang perlu diperangi. Kita tidak akan bertolak ansur dengan semua amalan ini agar tidak timbul perkara yang lebih buruk.

15. Doa yang dikaitkan dengan tawasul kepada Allah menggunakan perantaraan salah satu makhlukNya adalah perkara yang melibatkan perselisihan pendapat yang bersifat cabang. Masalah ini lebih kepada masalah dalam kaedah berdoa dan bukan masalah akidah.

16. Adat sumbang yang diamalkan tidak boleh mengubah hakikat lafaz-lafaz syarak. Malah apa yang dimaksudkan oleh istilah syarak ini perlu dikenal pasti dan dilaksanakan menurut erti istilah tersebut. Di samping itu budaya mempermainkan istilah perlu dielak dalam seluruh aspek dunia dan agama. Perkara yang diambil kira bukannya nama sebaliknya apa yang dimaksudkan oleh nama tersebut.

17. Akidah adalah landasan kepada amalan. Amalan hati lebih penting daripada amalan anggota badan. Melakukan yang terbaik dalam kedua-dua amalan ini adalah tuntutan syarak walaupun wujud perbezaan pada sejauhmana ia dituntut.

18. Islam membebaskan akal dan menggalakkan manusia memerhati alam semesta. Islam mengangkat darjat ilmu dan ulama. Islam juga mengalu-alukan segala perkara yang baik dan bermanfaat.

“Hikmah adalah hak orang mukmin yang telah hilang. Oleh itu di mana sahaja dia menemuinya dia adalah orang yang paling berhak untuk memilikinya.”

19. Ada pandangan syarak yang tidak bertepatan dengan pandangan akal namun akal dan syarak tidak akan bertembung dalam soal yang pasti. Penemuan sains yang sah tidak akan bertembung dengan kaedah syarak yang tetap. Bagi perkara yang tidak dipastikan oleh akal atau oleh syarak, ia perlu disesuaikan supaya bertepatan dengan apa yang pasti. Bagi perkara yang tidak dapat dipastikan oleh syarak dan oleh akal, pandangan syarak perlu diutamakan sehingga akal dapat membuktikan kebenarannya atau sebaliknya.

20. Kita tidak mengkufurkan seorang muslim yang mengucap dua kalimah syahadah dan masih mengamalkan tuntutan dua kalimah syahadah serta menunaikan amalan fardhu –sama ada mengikut suatu pendapat atau kerana melakukan suatu maksiat-kecuali jika dia mengeluarkan ucapan kufur dan mengakuinya, atau menolak sesuatu yang menjadi asas agama atau tidak mempercayai kenyataan al-Quran yang jelas, atau mentafsir al-Quran menurut cara yang tidak bertepatan sama sekali dengan gaya bahasa Arab, atau melakukan sesuatu yang tidak boleh diandaikan kecuali sebagai kufur.
Setelah seorang muslim memahami agamanya berpandukan asas ini barulah dia memahami apa yang sering dilaungkannya:

“Al-Quran adalah perlembagaan kami dan rasul adalah ikutan kami.”

As Syahid Imam Hassan Al Banna

Memelihara Kebenaran Dengan Kekuatan

Tuesday, October 20, 2009 0 comments


Alangkah tepat sekali kata hikmah yang menyebut: “Kekuatan adalah cara paling selamat untuk menegakkan kebenaran. Alangkah baiknya jika kekuatan dan kebenaran berjalan seiringan.”

Jihad bagi mengembangkan dakwah Islam terutama bagi memelihara kesucian Islam adalah suatu kewajipan yang diletakkan oleh Allah ke bahu umat Islam sama sepertimana Allah mewajibkan mereka puasa, sembahyang, haji, zakat, membuat kebaikan dan menjauhi kejahatan. Allah mewajibkan dan juga menggalakkan mereka melakukannya. Allah tidak mengecualikan sesiapa sahaja yang memiliki kekuatan dan kemampuan. Ayat yang menyebut perintah ini datang dengan amaran yang cukup keras dan suatu nasihat yang perlu diberikan perhatian.

"Pergilah kamu beramai-ramai (untuk berperang pada jalan Allah), sama ada dengan keadaan ringan (dan mudah bergerak) ataupun dengan keadaan berat (disebabkan berbagai-bagai tanggungjawab); dan berjihadlah dengan harta benda dan jiwa kamu pada jalan Allah (untuk membela Islam)." (Al-Taubah: 41)

Allah telah mendedahkan rahsia di sebalik segala perintah dan kewajipan ini kepada umat Islam. Allah jelaskan bahawa Dia memilih mereka supaya menjadi peneraju manusia, pemelihara syariat-Nya, menjadi wakil-Nya di bumi ini dan sebagai pewaris Rasulullah s.a.w. memikul dakwah baginda. Allah telah bentangkan kepada mereka agama ini. Allah telah memantapkan syariat-Nya, memudahkan segala hukum-hakam-Nya dan menjadikan hukum-hakam ini sesuai untuk semua zaman dan tempat supaya ia boleh diterima oleh seluruh manusia. Melalui syariat ini manusia akan meletakkan segala harapan dan impian yang mereka nantikan.

"Dialah yang memilih kamu (untuk mengerjakan suruhan agama-Nya); dan Dia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara agama, agama bapa kamu Ibrahim. Dia menamakan kamu: “Orang-orang Islam” semenjak dahulu dan di dalam (Al-Quran) ini, supaya Rasulullah (Muhammad) menjadi saksi yang menerangkan kebenaran perbuatan kamu, dan supaya kamu pula layak menjadi orang-orang yang memberi keterangan kepada umat manusia (tentang yang benar dan yang salah)." (Al-Haj: 78)

Inilah tanggungjawab sosial yang telah diserahkan oleh Allah kepada seluruh umat Islam. Mereka hendaklah berada dalam satu barisan, satu ketumbukan dan satu kekuatan. Mereka hendaklah menjadi tentera penyelamat yang akan menyelamatkan seluruh manusia dan membimbing mereka ke arah jalan yang betul.

Rahib Di Malam Hari Pejuang Di Siang Hari

Selepas itu Allah Taala menjelaskan hubungan antara perintah sembahyang dan puasa dengan perintah sosial tadi di mana perintah pertama adalah sebagai langkah awal untuk perintah kedua. Akidah yang sahih pula adalah asas untuk kedua-dua perintah. Tujuannya, supaya manusia tidak menjadikan perintah tadi sebagai alasan untuk tidak melakukan kewajipan individu mereka dengan alasan mereka telah beramal untuk semua manusia. Dalam masa yang sama ia tidak menjadi alasan kepada manusia yang lain untuk tidak berbakti kepada semua manusia dengan alasan mereka sibuk dengan ibadah mereka dan menghabiskan sepenuh masa mengadap tuhan. Bukankah ayat ini tepat dan bijaksana.

Dan siapakah pula yang lebih benar perkataannya daripada Allah? (Al-Nisa’: 87)
Wahai umat Islam, mengabdikan diri kepada tuhan kamu dan berjihad demi memartabatkan agama dan syariat kamu adalah tanggungjawab kamu dalam hidup ini. Jika kamu telah menunaikan tanggungjawab ini dengan bersungguh-sungguh, kamu adalah golongan yang beroleh kejayaan. Jika kamu hanya laksanakan separuh atau kamu abaikannya sama sekali saya kemukakan kepada kamu firman Allah Taala:

"Maka adakah patut kamu menyangka bahawa Kami hanya menciptakan kamu (dari tiada kepada ada) sahaja dengan tiada sebarang hikmat pada ciptaan itu? Dan kamu (menyangka pula) tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka (dengan yang demikian) Maha Tinggilah Allah Yang Menguasai seluruh alam." (Al-Mukminun: 115-116)

Atas dasar inilah para sahabat Rasulullah s.a.w. yang merupakan manusia yang dipilih oleh Allah dan hamba-hamba-Nya yang soleh disifatkan sebagai “rahib di malam hari, pejuang di siang hari”. Pada waktu malam mereka dilihat berdiri di mihrab, mengusap janggut, mulut terkumat-kamit dan menangis sayu. Mereka berkata: “Wahai dunia, perdayalah orang lain selain aku.” Apabila fajar menyingsing dan gendang perang dipalu memanggil para mujahidin, anda lihat mereka memacu kuda, riuh rendah memenuhi medan pertempuran.

Demi Allah, inilah keseimbangan yang menakjubkan antara amalan dan tugas di dunia dengan amalan dan kerohanian akhirat. Inilah Islam yang telah berjaya menggabungkan segala yang terbaik.

Imam As Syahid Hasan Al Banna

Tanggungjawab Muslim: Berkorban Bukan Mengaut Keuntungan

Sunday, October 11, 2009 0 comments



Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah serta sujudlah (mengerjakan sembahyang), dan beribadatlah kepada Tuhan kamu (dengan mentauhidkan-Nya), serta kerjakanlah amal-amal kebajikan; supaya kamu berjaya (di dunia dan di akhirat). Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya Dia lah yang memilih kamu (untuk mengerjakan suruhan ugama-Nya); dan Dia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara ugama, ugama bapa kamu Ibrahim. Ia menamakan kamu: “orang-orang Islam” semenjak dahulu dan di dalam (Al-Quran) ini, supaya Rasulullah (Muhammad) menjadi saksi yang menerangkan kebenaran perbuatan kamu, dan supaya kamu pula layak menjadi orang-orang yang memberi keterangan kepada umat manusia (tentang yang benar dan yang salah). Oleh itu, dirikanlah sembahyang, dan berilah zakat, serta berpegang teguhlah kamu kepada Allah! Dia lah Pelindung kamu. Maka (Allah yang demikian sifat-Nya) Dia lah sahaja sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Pemberi pertolongan. (Al-Haj: 77-78)

Ini bermakna al-Quran telah meletakkan umat Islam sebagai pembimbing umat manusia seluruhnya. Al-Quran telah menyerahkan hak menguasai dunia ini kepada mereka untuk menunaikan tanggungjawab yang suci ini. Oleh itu ini adalah hak kita bukan hak Barat. Ini adalah hak tamadun Islam dan bukan hak tamadun materialisme.
Seterusnya Allah Taala menjelaskan lagi bahawa dalam usaha mencapai matlamat ini orang yang beriman telah menjual jiwa dan hartanya kepada Allah. Ini bermakna tiada apa-apa lagi yang dikira sebagai haknya. Segalanya telah diserahkan demi kejayaan dakwah ini dan supaya dakwah ini sampai ke hati manusia. Ini dinyatakan oleh firman Allah:
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman akan jiwa mereka dan harta benda mereka dengan (balasan) bahawa mereka akan beroleh Syurga. (Al-Taubah: 111)
Dari sini kita dapat lihat seorang muslim menjadikan dunianya sebagai wakafan untuk dakwahnya, semata-mata untuk memperolehi kesenangan di akhirat nanti sebagai ganjaran kepada segala pengorbanannya. Atas dasar inilah seorang penakluk muslim bertindak sebagai seorang guru yang memiliki segala sifat yang sepatutnya dimiliki oleh seorang guru iaitu cahaya, hidayah, rahmat dan ihsan. Jadi ini bermakna penaklukan Islam adalah suatu proses membawa suatu tamadun dan peradaban, suatu proses untuk membimbing dan mendidik. Adakah ini telah dilakukan oleh kolonialisme Barat hari ini?
Sejauhmana Umat Islam Dengan Matlamat Ini?
Demi Allah! wahai saudaraku yang dihormati, adakah umat Islam hari ini memahami pengertian ini daripada kitab Tuhan mereka? Dengan itu jiwa dan roh mereka bebas merdeka daripada kehambaan dunia. Bersih daripada segala kongkongan syahwat dan hawa nafsu. Tidak terlibat dengan soal yang remeh temeh dan matlamat yang terlalu remeh. Mereka kerahkan seluruh jiwa mereka untuk Allah yang telah mencipta langit dan bumi dengan penuh ikhlas serta mahu memartabatkan kalimah Allah dan berjuang di jalan-Nya. Mereka berusaha mengembangkan agama-Nya dan mempertahankan syariat-Nya. Ataupun pada hakikatnya mereka adalah tawanan dan hamba kepada syahwat dan hawa nafsu mereka sendiri. Apa yang menjadi tumpuan mereka hanyalah sesuap nasi, kenderaan, hiasan, tidur yang nyenyak, wanita yang cantik, imej yang palsu dan gelaran yang kosong.
Penyair menyebut:
“Mereka leka dengan impian lantas mempertaruhkan nasib mereka. Mereka dakwa telah harungi lautan gelora namun sebenarnya mereka belum diuji”

Benarlah sabda Rasulullah s.a.w.:
“Celakalah hamba dinar, hamba dirham, hamba qatifah.”

Matlamat Adalah Pokok, Usaha Hanya Cabang
Matlamat merangsang manusia untuk mengatur langkah. Namun apabila matlamat ummah masih kabur dan bercelaru kita perlu bertindak menjelaskan dan menetapkan matlamat ini. Saya merasakan kita telah memahami banyak perkara dengan jelas. Kita juga telah bersetuju bahawa peranan kita ialah memimpin dan membimbing dunia serta manusia agar semuanya tunduk di bawah sistem dan ajaran Islam yang menjadi satu-satunya jalan yang boleh membawa manusia ke arah kebahagiaan.
Landasan Matlamat Kami
Inilah mesej yang ingin disampaikan oleh Ikhwan al-Muslimin kepada seluruh manusia supaya umat Islam benar-benar memahaminya. Malah supaya mereka bersedia melaksanakannya dengan penuh keazaman dan ketabahan. Mesej ini bukanlah ciptaan Ikhwan al-Muslimin dan bukan rekaan mereka. Sebaliknya mesej ini jelas dinyatakan oleh ayat-ayat al-Quran al-Karim. Mesej ini dengan jelas dinyatakan oleh hadis-hadis Rasulullah s.a.w. yang mulia. Malah turut ditampilkan dengan jelas melalui amalan generasi pertama yang merupakan contoh teladan terbaik dalam memahami dan melaksanakan ajaran Islam. Jika umat Islam mahu menerima mesej ini, ia menjadi tanda keimanan dan keislaman mereka yang sebenar. Jika mereka keberatan untuk menerima atau masih sangsi, di hadapan kita ada Kitab Allah. Hukumnya adil dan keputusannya muktamad. Ia akan menjadi hakim antara kita dan saudara-saudara kita ini. Kitab Allah yang menentukan sama ada kita di pihak yang benar atau salah.
Wahai Tuhan kami, hukumkanlah antara kami dan kaum kami dengan kebenaran (keadilan), kerana Engkau jualah sebaik-baik Hakim. (Al-A’raf: 89)
Penjelasan
Ramai di kalangan saudara kita yang masih tertanya-tanya walaupun mereka adalah orang yang amat kita kasihi sepenuh jiwa raga kita. Malah kita serahkan segala tenaga, harta dan jiwa kita untuk kebaikan mereka. Kita bekerja demi kepentingan dunia dan akhirat mereka. Kita juga korbankan segala harta dan jiwa kita untuk matlamat ini. Matlamat untuk membawa kebahagiaan kepada ummah dan saudara-saudara kita. Kita ketepikan anak isteri kita demi mereka. Alangkah besarnya harapan saya jika saudara-saudara yang masih tertanya-tanya ini melihat sendiri para pemuda Ikhwan al-Muslimin yang sentiasa berjaga malam ketika semua manusia sedang nyenyak tidur. Mereka bekerja berhempas pulas sedangkan mereka yang hanyut terus membuang masa. Ada di antara mereka berada di pejabat daripada Asar hingga ke tengah malam bekerja dan berfikir bersungguh-sungguh. Begitulah selama sebulan dan apabila tiba akhir bulan dia menyerahkan pendapatannya untuk jamaah. Segala perbelanjaannya hanya untuk dakwah, hartanya adalah untuk mencapai matlamatnya. Segala geraklakunya seolah berkata kepada masyarakat yang tidak sedar pengorbanan yang dilakukannya itu: “Saya tidak pernah meminta ganjaran daripada kamu kerana pengorbanan ini. Segala ganjaran saya hanyalah daripada Allah.” Kita tidak sekali-kali meminta-minta daripada masyarakat kerana kita daripada mereka dan untuk mereka. Cuma kita harapkan, dengan segala pengorbanan ini mereka akan memahami dakwah kita dan menyahut seruan kita.






As Syahid Syeikh Imam Hassan Al Banna

 
Tarbiyah Pewaris © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum