Video

Berani Menyampaikan Kebenaran

Thursday, May 27, 2010 0 comments


Sebahagian umat Islam mungkin ada yang bertanya-tanya : Apa yang kami (ikhwanul muslimun) lakukan? Dan bagaimana kami melakukannya?

Ketahuilah, nyalakanlah dalam jiwa kalian manisnya iman niscaya akan larilah kejahatan yang ada dalam tubuh kalian, dan saat iman menguasai jiwa kalian, maka akan tampak cahaya Islam yang terang benderang dan akan kalian temukan pelbagai saranan dan jalan dihadapan kalian semuanya tentang kabahagiaan, petunjuk dan nilai-nilai ilahi.

Sesungguhnya jalan kebenaran adalah jalan yang jelas dan terang benderang; dasar utamanya adalah tsabat (teguh) dalam kebenaran dan bekalnya adalah keberanian dalam menyampaikan kebenaran dan kekuatan dalam menghadapi kezaliman, berdiri tegak dihadapan para pelaku kerosakan, sebagaimana Rasulullah saw sabdakan :

“إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوْا عَلىَ يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللهُ بِعِقَابٍ”

“Sesungguhnya seseorang, jika melihat ada orang zalim lalu dia tidak mencegahnya dengan tangannya maka niscaya Allah akan menurunkan azab kepada semuanya”.

Kemudian memiliki kebanggaan dengan karamah (kemuliaan) Islam, tidak rela dengan kehinaan dan ketundukan dihadapan kekuatan zalim dan perosak dunia, serta berlepas diri dari umat yang tidak mampu menjalankan amanah ini yang selalu mengiringi semangat dengan kepengecutan dalam menunaikannya; nabi saw berkata :

إِذَا اسْتُحِيَتْ أُمَّتِي أَنْ تَقُوْلَ لِلظَّالِمِ: يَا ظَالِمُ فَقَدْ تَوَدَّعَ مِنْهُمْ”.

“Jika umatku malu mengatakan terhadap orang yang zalim : wahai zalim, maka dia telah sebahagian darinya”.

Bahkan sesungguhnya ini merupakan saranan untuk peningkatan diri dengan ruh perlawanan dihadapan orang-orang zalim dan pelaku kerosakan pada yang tingkat yang lebih tinggi; seperti tingkatan yang dicapai oleh Hamzah sebagai “Syahidul akbar” yang dapat diraih oleh setiap orang yang berani menampakkan kebenaran dan pendapat yang bebas dihadapan penguasa zalim, sehingga dia mengorbankan ruhnya sebagai penebus kebebasan berpendapat dan berkeyakinan; Rasul saw. bersabda :

“سَيِّدً الشُّهَدَاءِ حَمْزَة، وَرَجُلٌ قَامَ إِلىَ إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ”

“Penghulu para syuhada adalah Hamzah dan seseorang yang berdiri tegak dihadapan pemimpin zalim, sehingga dia berani menyuruh dan mencegahnya lalu dia terbunuh”.

Dan menjadikan jihad dengan pendapat dan perkataan seperti jihad dengan pedang yang memiliki darjat yang lebih tinggi, seperti sabda nabi :

“أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ”

“Sebaik-baik jihad adalah mengucapkan kebenaran dihadapan penguasa zalim”

Bekerjalah .. bekerjalah .. Dan bekerjalah ..

Monday, May 24, 2010 0 comments

Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam atas Rasulullah saw, dan orang-orang yang mendukungnya

Allah SWT berfirman:
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلاً

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)”. (Al-Ahzab:23)

وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah kamu mengira bahawa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup[248] disisi Tuhannya dengan mendapat rezki”. (Al Imran: 169).

Kami ingin menghadirkan peringatan hari syahidnya Hasan Al-Banna, 12 Februari tahun 1961, yang kita menyedari bahawa Hasan Al-Banna telah pergi untuk menghadap Tuhannya dengan penuh keredhaan dan diredhai; banyak peluru telah menembus tubuhnya yang sentiasa menghabiskan waktu malamnya dengan bersujud dihadapan Allah, dan pada siang harinya berjuang di jalan Allah menyusuri pelosok daerah dan kota di Mesir, dari hujung hingga hujung lainnya, namun semangat, manhaj dan pembangunan yang beliau tegakkan tetap membara, dan seiring dengan berjalannya waktu kekokohan dan peraturan kian terus bertambah dan meningkat, Imam Syahid Hasan Al-Banna telah memberikan darahnya yang suci dan bersih sebagai bahan bakar yang tidak akan pernah putus, namun terus melahirkan para syuhada dan air mata para sajidin (ahli sujud) dihadapan Allah SWT, ketegaran orang-orang yang disiksa di penjara, dan doa jutaan tahanan dan keluarga mereka kepada Allah, Tuhan semesta alam, dan keteguhan orang-orang yang mengorbankan hartanya yang berharga dan jiwanya yang mahal di jalan Allah dalam mempertahankan aqidah, fikrah dan manhaj mereka untuk menggapai redha Allah, Tuhan semesta alam; kerana Allah adalah tujuan mereka, Rasul adalah teladan mereka, jihad adalah jalan mereka, syariat adalah manhaj mereka, dan kematian di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi mereka, mereka jujur kepada Allah dan Allah menerima kejujuran mereka.

Beliau memiliki nama yang baik; beliau telah meletakkan bangunan besar dan menjulang tinggi, menghirup kebaikan dari sirah Nabi saw sebagai manhaj yang jelas dan asas untuk melakukan reformasi dan perubahan; kearah mencapai tujuan dan misi yang mulia dan suci iaitu bangkitnya umat Islam, menghidupkan kembali kemuliaannya, memulihkan martabat dan kepemimpinannya di seluruh dunia, setelah membebaskan tanah air dan mengembalikan peranan keantarabangsaannya untuk umat ini.
Metode ini telah dibuat langkah-langkahnya, ditentukan karakternya
Bersumber dari firman Allah SWT:

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Ar-Ra’ad:11)

Dan firman Allah:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“(siksaan) yang demikian itu adalah kerana Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri”. (Al-Anfal:53)
Dan firman Allah:

قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

“Katakanlah, itu datang dari sisi kalian sendiri” (Ali Imran:165)
Dan firman Allah:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; kerana itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”. (An-Nahl:112)

Beliau menetapkan konsep kerja yang kongkrit dan objektif, yang membuktikan pada hari-hari ini akan kelayakan dan utilitinya, berbeza dengan kegagalan yang dilakukan oleh kelompok pemilik rencana dan konsep yang premature; konsep yang bermula dengan melakukan perbaikan pada individu, pembentukan rumah tangga Islami, mengarahkan masyarakat kepada yang lebih baik, memerangi kejahatan dan kemungkaran, lalu menuju kepada kemerdekaan tanah air dari segala dominasi dan hegemoni asing, mereformasi dan memperbaiki pemerintah sehingga mereka mahu berjalan sesuai dengan manhaj Islam, dan berakhir pada kembalinya entiti antarabangsa untuk umat Islam dan guru bagi dunia, tanpa melakukan pengawasan satu dengan yang lainnya, bahkan menuju kemanusiaan global seperti yang dibawa oleh Islam.

Imam syahid pada awal dakwah yang memiliki asas dan sebagai rukun padanya “Dari mana kami memulai”?

إِنَّ تَكْوِيْنَ الأُمَمِ، وَتَرْبِيَةَ الشُّعُوْبِ، وَتَحْقِيْقَ الآمَالَ، وَمُنَاصَرَةَ الْمَبَادِئِ؛ تَحْتَاجُ مِنَ الأُمَّةِ الَّتِي تُحَاوِلُ هَذَا أَوْ مِنَ الْفِئَةِ الَّتِي تَدْعُوْ إِلَيْهِ عَلَى الأَقَلِّ إِلَى قُوَّةٍ نَفْسِيَّةٍ عَظِيْمَةٍ، تَتَمَثَّلُ فِي عِدَّةِ أُمُوْرٍ: إِرَادَةٌ قَوِيَّةٌ لاَ يَتَطَرَّقُ إِلَيْهَا ضَعْفٌ، وَوَفَاءٌ ثَابِتٌ لاَ يَعْدُو عَلَيْهِ تُلَوُّنٌ وَلاَ غَدَرٌ، وَتَضْحِيَةٌ عَزِيْزَةٌ لاَ يَحُوْلُ دُوْنَهَا طَمَعٌ وَلاَ بَخْلٌ، وَمَعْرِفَةٌ بِالْمَبْدَأِ وَإِيْمَانٌ بِهِ وَتَقْدِيْرٌ لَهُ، يَعْصِِمُ مِنَ الْخَطَأَ فِيْهِ وَالانْحِرَافِ عَنْهُ وَالمُسَاوَمَةِ عَلَيْهِ وَالْخَدِيْعَةِ بِغَيْرِهِ.. عَلَى هَذِهِ الأَرْكَانِ الأَوَّلِيَّةِ الَّتِي هِيَ مِنْ خُصُوْصِ النُّفُوْسِ وَحْدِهَا، وَعَلىَ هَذِهِ الْقُوَّةِ الرُّوْحِيَّةِ الْهَائِلَةِ تُبْنَى المَبَادِئُ، وَتَتَرَبَّى الأُمَمَ النَّاهِضَةَ، وَتَتَكَوَّنَ الشُّعُوْبَ الَفَتِيَّةَ، وَتَتَجَدَّدَ الْحَيَاةَ فِيْمَنْ حُرِمُوا الْحَيَاةُ زَمَنًا طَوِيْلاً

“Bahawa pembentukan suatu bangsa, pembinaan suatu umat, untuk mewujudkan harapan, menyokong prinsip-prinsipnya; memerlukan peranan dari umat yang berusaha melakukan ini atau suatu kelompok yang menyeru kepadanya, minima pada kekuatan psikologi yang besar, yang terdiri pada beberapa hal: keinginan yang kuat yang tidak ada kelemahan di dalamnya, keteguhan yang tidak terkontaminasi atau ada pengkhianatan di dalamnya, pengorbanan yang murni yang tidak dihalangi oleh adanya keserakahan dan kekikiran, mengenal tentang prinsip, meyakininya dan menghargainya, terlindung dari kesalahan di dalamnya, tidak ada penyimpangan dan tawar-menawar serta penipuan padanya. Pelbagai rukun yang utama ini merupakan sebahagian dari karakteristik jiwa itu sendiri, merupakan kekuatan kekuatan spiritual yang luar biasa ini yang mampu membangun dan memperkokoh prinsip-prinsip, dan membina umat untuk bangkit, yang terdiri dari umat dari kalangan muda dan energik, dan memperbaharui hidup dari mereka yang telah begitu lama telah kehilangan semangatnya. “

Setiap bangsa yang kehilangan empat karakter diatas atau setidaknya kehilangan penuntunnya dan penyeru reformasi di dalamnya, akan menjadi bangsa yang miskin dan kacau, tidak akan dapat meraih kebaikan, tidak akan mampu mewujudkan harapan, dan akan terpaku pada kehidupan dalam suasana mimpi, berfantasi dan prasangka.

إِنَّ الظَّنَّ لا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

“Padahal sesungguhnya prasangka itu tidak memberikan kebaikan sedikitpun” (Yunus:36).

[690] sesuatu yang diperoleh dengan prasangkaan sama sekali tidak bisa mengantikan sesuatu yang diperoleh dengan.

Ini adalah hukum Allah dan sunnatullah dalam ciptaan-Nya, dan kita tidak akan menemukan perubahan sedikitpun dari sunnatullah ini

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Ar-Ra’ad:11)
Dan dengan jelas beliau menyatakan bahawa kebangkitan suatu bangsa tidak akan tercapai hanya pada dasar-dasar Islam dan aturan-aturannya, dan inilah yang ditetapkan setelah syahidnya Al-Banna pada keyakinan umat, dan diungkapkan oleh umat Islam pada setiap referendum atau pilihanraya yang bebas dan adil dengan mendukung projek Islam.

Imam Al-Banna berkata:

إِذَا كَانَ الإِخْوَانُ الْمُسْلِمُوْنَ يَعْتَقِدُوْنَ أَنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَضَعَ فِي هَذَا الدِّيْنِ الْقَوِيْمِ كُلَّ الأُصُوْلِ اللاَّزِمَةِ لِحَيَاةِ الأُمَمِ وَنَهْضَتِهَا وَإِسْعَادِهَا؛ فَهُمْ يُطَالِبُوْنَ النّاسَ بِأَنْ يَعْمَلُوْا عَلَى أَنْ تَكُوْنَ قَوَاعِدَ الإِسْلاَمَ الأُصُوْلَ الَّتِي تُبْنَى عَلَيْهَا نَهْضَةَ الشَّرِقْ الْحَدِيْثِ فِي كُلِّ شَأْنٍ مِنْ شُئُوْنِ الْحَيَاةِ، وَيَعْتَقِدُوْنَ أَنَّ كُلَّ مَظْهَرٍ مِنْ مَظَاهِرِ النَّهْضَةِ يَتَنَافَى مَعَ قَوَاعَدِ الإِسْلاَمِ وَيَصْطَدِمُ بِأَحْكَامِ الْقُرْآنِ؛ فَهُوَ تَجْرِبَةٌ فَاسِدَةٌ فَاشِلَةٌ، سَتَخْرُجُ مِنْهَا الأُمَّةُ بِتَضْحِيَاتٍ كَبِيْرَةٍ فِي غَيْرِ فَائِدَةٍ

“Jika Ikhwanul Muslimin percaya bahawa Allah yang Maha Kuasa menempatkan agama yang lurus ini semua dasar-dasarnya yang diperlukan untuk kehidupan bangsa, kebangkitan dan kebahagiannya; Maka mereka juga mengajak umat yang lainnya untuk bekerja dengan mengikuti segala aturan-aturan dasar Islam yang dapat membangun kebangkitan timur dalam segala urusan kehidupan, dan mereka percaya bahawa dari setiap aspek kebangkitan yang tidak sesuai dengan aturan Islam dan bertentangan dengan Al-Quran; maka akan menjadi pengalaman kegagalan dan kenistaan, darinya akan mengeluarkan umat dengan dengan berbagai pengorbanan yang besar bangsa tanpa ada manfaat sama sekali “.

Sungguh telah terbukti pada hari-hari dan peristiwa masa lalu selama lebih dari satu abad, bahawa setiap percubaan suatu kebangkitan yang dilakukan suatu bangsa selalu menemui jalan buntu, dan kita masih saja mencari jalan menuju kemerdekaan yang hakiki, untuk memiliki kehendak yang merdeka, keadilan yang sejati, keadilan sosial dan hukum, kebebasan, kekuasaan, yang berasal dari pemimpin umat yang dihasilkan oleh pilihanraya yang bebas, meskipun berlalunya zaman di mana umat melewati kekuasaan liberal, sosialisme atau komunisme, diktator militer, sehingga kita selalu menghadapi pelbagai duri dan benturan, lalu kembali dari awal ..
Demikianlah yang dilakukan oleh pasukan pendudukan asing (imperialis) atas lebih dari 40 negara, yang dipimpin oleh Amerika Syarikat yang berhasil menduduki Palestin, Irak, Afghanistan dan Somalia ..

Demikianlah yang terjadi; adanya pangkalan militer AS yang tersebar di seluruh daerah dan negeri yang diduduki pada negara-negara Arab dan Islam dari benua ke benua lainnya melewati Teluk ..

Demikianlah perjanjian perdamaian yang dilakukan pemerintah Islam, dan menempatkan pasukan tentera dan polis dalam menghadapi rakyatnya sendiri atau terhadap negara tetangganya yang muslim ..

Sesungguhnya Hassan Al-Banna tidaklah mati, namun ia tetap ada dari apa yang telah dibina pada penerusnya, meskipun tubuh yang kurus yang terus melakukan safar dan rehlah di jalan Allah telah hancur namun ruhnya tetap ada di tengah para umana (pemimpin) dakwah yang berjuang di seluruh pelosok bumi dalam lima benua.
Peristiwa-peristiwa ini hanya membuktikan kebenaran manhaj dan bersihnya dakwah ini.

Wahai Ikhwanul Muslimin…
Berjalanlah diatas jalan yang penuh keberkahan Allah..
Jadilah kalian orang-orang menepati janji dihadapan Allah..
Pelajarilah dan tadabburkanlah Al-Qur’an sehingga kalian dapat memahami jalan yang harus ditempuh dan yang telah digarapkan konsepnya, teruslah berada pada sirah Rasul kalian saw sehingga kalian memahami manhaj kalian sebagai aplikasi praktis sirah Nabi saw…

Bekerjalah .. bekerjalah .. Dan bekerjalah .. dan janganlah kalian berputus asa; kerana masa depan adalah milik dakwah kalian, dan kemenangan untuk umat kalian ..

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

”Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (At-Taubah:105)

Maha benar Allah yang maha Kuasa atas segala firman-Nya.

(Taujih dari Dr. Muhammad Badi, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 04-02-2010)

Kenali Ikhwan Muslimin

0 comments


Jamaah Ikhwanul Muslimin  adalah salah satu jamaah dakwah terbesar yang hingga kini terus melakukan pelbagai kegiatannya. Para simpatisan, pendukung dan para kadernya tersebar di pelbagai wilayah di seluruh dunia. Mereka  melakukan kegiatan  dakwahnya dengan berpedoman  kepada pelbagai arahan dan pemikiran yang  dicetuskan oleh pemikir besar  Ikhwan Al-Muslimin sekaligus pendirinya, Imam Syahid  Hasan Al-Banna.

Meskipun jamaah ini lahir dalam kurun  waktu yang cukup lama, semangat perjuangannya hidup dan terus berkembang. Ada nilai-nilai universal yang selalu diperjuangkannya, misalnya keterbukaan, keadilan, clean government, dan sebagainya. Lebih khusus lagi  Ikhwan  Al-Muslimin sejak semula menggaungkan perjuangan nilai-nilai dakwah Islam, yang menjadi penting untuk  dikaji  oleh masayarakat akademik dan pertubuhan dakwah.

Dalam prinsipnya, Ikhwan Al-Muslimin beranggapan bahawa Islam adalah sistem yang menyeluruh yang menyentuh seluruh bidang dan sendi kehidupan. Ia adalah Negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan  keadilan, peradaban dan  undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan sumber daya alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana ia adalah akidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.  Dalam pernyataannya Imam Hasan Al-Banna menyebut istilah syamil (universal), kamil (sempurna) dan mutakamil (integral), untuk Islam dan nilai yang diperjuangkan.
Ikhwan Al-Muslimin berdiri pada bulan  Zulkaedah  1347 H bertepatan  pada bulan Mac 1928 M di Mesir, tepatnya di Kota Ismailiyah, dimana pada waktu itu  merupakan camp pendudukan Inggeris. Pendirinya adalah Hasan Al-Banna, yang kelak bersama organisasi yang dibentuknya menjadi tokoh yang besar dan disegani. Gerakan Ikhwan Al-Muslimin dipandang sebagai  pejuang Islam  di desa-desa miskin dan pelopor tumbuhnya gerakan fundamentalisme Islam zaman moden di kawasan Afrika dan Timur Tengah.

Seruan gerakan Ikhwan Al-Muslimin  adalah  kembali kepada Islam sebagaimana yang temaktub dalam Al-Quran dan Sunah serta mengajak kepada penerapan syariat Islam dalam kehidupan nyata. Selain itu dalam gerakannya ia pun berusaha membendung arus sekularisme ke dunia Arab pada khususnya dan dunia Islam pada umumnya.
Jika dilihat dari latar belakang sosio-kulturnya, kelahiran Ikhwan Al-Muslimin tidak lepas dari sosio-kultur Mesir, juga realiti dunia Islam pada umumnya yang terpuruk pra dan pasca-perang Dunia I (1913) dan kejatuhan Khilafah Islamiyah (1924) serta penjajahan di dunia Islam oleh  Eropah, ketidakstabilan politik, perpecahan bangsa, era kejumudan berfikir dan bermaharajalelanya taklid, khurafat serta ketahayulan. Hal-hal itulah yang melatarbelakangi Hasan Al-Banna untuk mendirikan gerakan tersebut.
Menurut Jihan L.Posito, pada awalnya gerakan Ikhwan Al-Muslimin bergerak di bidang sosial dan pendidikan. Beberapa kegiatannya antara lain adalah pembinaan poliklinik, masjid, sekolah, kilang, membanteras buta huruf, penerbitan kitab agama, serta penerbitan akhbar harian dan  majalah.

Lambat laun, gerakan Ikhwan Al-Muslimin   mulai masuk ke dalam masalah-masalah politik. Dimulai dengan turut sertanya beberapa aktivis Ikhwan Al-Muslimin   dalam perang Arab-Israel tahun 1948, setelah sebelumnya digembleng dengan latihan-latihan ketenteraan. Hingga pasca perang dunia II, Ikhwan Al-Muslimin dikenal sebagai organisasi politik yang militan dan aktif menentang pemerintahan sekular Mesir.

Perjalanan Ikhwan Al-Muslimin   penuh dengan tribuasi-tribulasi. Hambatan dan tentangan khususnya dari Pemerintah Mesir, yang tidak boleh dipisahkan dari sejarah perjalanan Ikhwan Al-Muslimin. Tahun 1948 menjadi tahun yang penting dan genting dalam sejarah Ikhwan Al-Muslimin.  Pada bulan November tahun tersebut, Perdana Menteri Fahmi Naqrasy membekukan Ikhwan Al-Muslimin, menyita aset-asetnya dan menangkap para tokohnya. Ikhwan Al-Muslimin  menjadi organisasi yang diharamkan pada saat itu.

Pada bulan  Disember 1948, terjadi peristiwa besar di Mesir. Perdana Menteri  Fahmi Naqrasy diculik dan dibunuh. Orang-orang Ikhwan Al-Muslimin dituduh sebagai pelaku penculikan tersebut. Ketika mengusung jenazah Narqasy, para pendukungnya berteriak: “Kepala Narqasy harus dibayar dengan kepala Hasan Al-Banna”. Pada tanggal 12 Februari 1949, Hasan Al-Banna terbunuh secara misteri.

Menurut beberapa keterangan, pembunuhan tersebut sangat terancang dan sistematik. Sehingga ramai yang berpendapat bahawa Hasan Al-Banna memang sengaja dibunuh oleh kalangan militer atas perintah Raja Faruk.

Sepeninggalan  Hasan Al-Banna, pada tahun 1950, Hasan Hudaibi (1306-1393H/1891-1973 M) yang terkenal sebagai tokoh kehakiman Mesir, terpilih menjadi Mursyid ‘Am Ikhwan Al-Muslimin. Selanjutnya pada tahun tersebut berdasarkan keputusan Dewan Tertinggi Negara, Ikhwan Al-Muslimin direhabilitasi. Dewan tersebut juga memutuskan bahawa pembekuan Ikhwan Al-Muslimin  selain tidak sah, juga bercanggah dengan perlembagaan. Ketika itu Mesir sedang diperintah oleh Kabinet Al-Nuhas.

Pada tahun 1952, terjadi revolusi di Mesir, atau lebih dikenali dengan  dengan “Revolusi Julai” pimpinan Gamal Abdul Nasser yang mengakhiri kekuasaan Raja Faruk sekaligus mengakhiri sistem  pemerintahan monarki. Sejak saat itu hingga sekarang, Ikhwan Al-Muslimin dan pemerintah Mesir terlibat konflik yang kian hari kian menajam. Ikhwan Al-Muslimin sering dituduh sebagai gerakan yang  ingin menjatuhkan pemerintahan.  Kemuncaknya, pada tahun 1954, Ikhwan Al-Muslimin  dinyatakan sebagai organisasi haram oleh pemerintah Mesir, setelah sebelumnya Ikhwan Al-Muslimin  dituduh  melakukan usaha pembunuhan  terhadap Presiden Gamal Abdul Nasser.

Selanjutnya pemerintah Nasser melakukan  penangkapan besar-besaraan terhadap anggota Ikhwan Al-Muslimin  dan ribuan aktivisnya dimasukkan ke penjara. Enam diantaranya dihukum mati, iaitu Abdul Qadir Audah, Muhammad Farghali, Yusuf Thal’at, Handawi Dhuair, Ibrahim Thayyib dan Muhammad Abdul Latif.

Usaha pemerintah Nasser untuk melumpuhkan Ikhwan Al-Muslimin  ternyata tidak berhenti pada saat itu. Sepanjang tahun  1965-1966 Pemerintah kembali melakukan penangkapan. Tercatat ada tiga orang yang dihukum gantung, iaitu Yusuf Hawasi, Abdul Fatah Ismail dan Sayyid Qutb, seorang pemikir Ikhwan Al-Muslimin terkemuka dan disebut-sebut sebagai pemikir Ikhwan Al-Muslimin  nombor dua setelah Hasan Al-Banna.

Sejak saat itu, Ikhwan bergerak secara rahsia atau menjadi gerakan bawah tanah sehinggalah Gamal Abdul Nasser meninggal dunia pada 28 September 1970. Sepeninggalan Nasser, iaitu ketika pemerintahan Anwar Sadat berkuasa, aktivis Ikhwan Al-Muslimin  yang dipenjarakan mulai dibebaskan secara bertahap. Namun demikian, kekritisan sikap mereka terhadap setiap bentuk penyelewengan pemerintah tetap tidak berubah. Diantara bentuk kekritisan itu adalah pada pasca perang Arab-Israel, melalui perjanjian Camp David (1979). Sejak saat itu, konfrontasi antara Ikhwan Al-Muslimin  dan pemerintahan Anwar Sadat kembali tercetus. Kemuncaknya adalah saat Sadat terbunuh pada tanggal 6 Oktober 1981, pemerintah kembali menuduh Ikhwan Al-Muslimin  berada di sebalik pembunuhan tersebut.

Umar Tilmisani (1894-1973) terpilih menjadi Mursyid ‘Am Ikhwan Al-Muslimin selepas  Hasan Hudaibi (1891-1973). Pada masa kepemimpinannya pembesar Ikhwan Al-Muslimin menuntut hak-hak kelompok secara utuh dan pengembalian hak-hak jamaah yang dibekukan serta seluruh aset-aset yang disita pemerintahan pada masa Abdul Nasser.

Dalam kepemimpinannya, Ikhwan Al-Muslimin  bergerak dengan strategi yang menjauhkan mereka dari konfrontasi atau pertembungan dengan pemerintah. Dalam banyak kesempatan ia sering mengulang-ulang seruanya ”Bergeraklah dengan bijak dan hindarkanlah kekerasan dan ekstrimisme.

Begitu pula  ketika Muhammad Hamid Abu Nasser terpilih menjadi Mursyid ‘Am Ikhwan Al-Muslimin setelah Umar Tilmisani. Beliau mewarisi apa yang dijalankan pendahulunya. Dalam kaedah dan strategi geraknya, beliau menempuh kaedah yang sudah dilalui Umar Tilmisani. Selepas Muhammad  Hamid Abdul Nasser meninggal dunia, tampuk kepemimpinan Ikhwan Al-Muslimin  dipegang oleh  Mustafa Masyhur.

Selain tokoh-tokoh di atas, banyak tokoh Ikhwan Al-Muslimin  yang muncul di luar Mesir, antara lain:

Syeikh Muhammad Mahmud As-Shawwaf. Beliau adalah pendiri dan pemimpin umum gerakan Ikhwan Al-Muslimin di Irak.

Dr. Mustafa Al-Siba’i (1915-1964). Beliau adalah pemimpin umum Ikhwan Al-Muslimin pertama di Syiria.

Syeikh Abdul Latif Abu Qurah. Pada 19 Niovember 1945, beliau terpilih sebagai pemimpin umum Ikhwan Al-Muslimin yang pertama di Jordan.

 
Tarbiyah Pewaris © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum