Video

Sikap ManusiaTerhadap Al Quran

Thursday, January 31, 2008 0 comments

Seseorang layak merasa hairan terhadap sikap kebanyakan manusia terhadap Allah swt.: Al Quranul Karim. Ikhwan sekalian, sebagaimana saya katakan sebelumnya, sikap kebanyakan manusia di masa kini terhadap kitab Allah ibarat kelompok manusia yang dilitupi kegelapan dari segala penjuru. Mereka kebingungan, berjalan tanpa apa-apa petunjuk apa pun. Kadang-kadang mereka terjatuh ke jurang, terkadang mereka berkeras hati seperti batu dan terkadang saling mundar mandir kebingungan seperti kehilangan punca. Keadaan mereka terus demikian, tersesat membabi buta dan berjalan dalam kegelapan yang pekat. Sedangkan di hadapan mereka ada sebuah suis elektrik yang andaikata mereka tekan dengan jari, maka gerakan sedikit itu dapat menyalakan sebuah lampu yang terang benderang. Inilah saudaraku perumpamaan umat manusia sekarang dan sikap mereka terhadap kitab Allah.

Hari ini, manusia tidak menemui jalan selain berdoa, bersedih dan menangis, sungguh aneh kerana di hadapan mereka sebenarnya terdapat Al Quranul Karim, kitab Allah swt. Ibarat satu perumpamaan:

“Bak unta mati kehausan di padang pasir, sedangkan air terpikul di atas punggungnya.”

Firman Allah swt yang bermaksud:

”Tetapi kami jadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya sesiapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya Kami benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)

”Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf: 157)

”...Ini ialah Kitab (Al-Quran) Kami turunkan Dia kepadamu (Wahai Muhammad), supaya Engkau mengeluarkan umat manusia seluruhnya dari gelap-gelita kufur kepada cahaya iman - Dengan izin Tuhan mereka - ke jalan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Terpuji.” (Ibrahim:1)

”Wahai ahli Kitab! Sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami (Muhammad, s.a.w) dengan menerangkan kepada kamu banyak dari (keterangan-keterangan dan hukum-hukum) yang telah kamu sembunyikan dari Kitab suci, dan ia memaafkan kamu (dengan tidak mendedahkan) banyak perkara (yang kamu sembunyikan). Sesungguhnya telah datang kepada kamu cahaya kebenaran (Nabi Muhammad) dari Allah, dan sebuah Kitab (Al-Quran) yang jelas nyata keterangannya. Dengan (Al-Quran) itu Allah menunjukkan jalan-jalan keselamatan serta kesejahteraan kepada sesiapa yang mengikut keredaanNya, dan (dengannya) Tuhan keluarkan mereka dari gelap-gelita (kufur) kepada cahaya (iman) yang terang-benderang, Dengan izinNya; dan (dengannya juga) Tuhan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Maidah:15-16)

Qadhiyah Palestin Berada di Persimpangan Jalan

Tuesday, January 29, 2008 0 comments

Qadhiyah (Permasalahan) Palestin Berada di Persimpangan Jalan

Risalah dari Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Al-Ikhwan Al-Muslimun,
17-01-08

Segala puji hanya milik Allah, salawat dan salam atas Rasulullah saw dan orang-orang yang mendukung risalahnya, selanjutnya…

Pembantaian yang biadab yang dilakukan oleh Zionis Israel kembali terjadi sejak beberapa minggu terakhir di Gaza, peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya, iaitu pada hari selasa tanggal 15 Januari 2008, sehingga mensyahidkan di dalamnya 22 orang di samping beberapa puluh orang yang terluka; saya sampaikan; kita kembali teringat pada suatu masa yang suram terhadap qadhiyah Palestin.

Sungguh peristiwa tersebut merupakan aksi teroris yang diiringi dengan berbagai insentif baru yang belum pernah terjadi pada sejarah permasalah Arab dan kaum Muslimin dahulu, khususnya Palestin:

Bertambahnya berbagai serangan mengiringi kunjungan rasmi penjaga proses perundingan yang telah gagal; presiden Amerika, yang selalu mempropagandakan dalam setiap misi kunjungannya terkanan-tekanan dari berbagai arah, di antaranya:

• Persekutuan strategi antara Amerika dan Zionis.

• Tekanan yang berkesinambungan untuk menjaga keamanan pendudukan zionis, dan di antara salah satu tujuan kunjungan dan ziarahnya adalah jaminan keamanan negara aphartheid tersebut.

• Propaganda baru terhadap keperluan keberadaan Negara Ibrani aphertheid yang bernama Yahudi; yang bertujuan menghapus jaminan pengembalian jutaan pelarian Palestin, mengabaikan berbagai konsensus terhadap jaminan hak mereka, memberikan ancaman untuk mengusir dan mengeluarkan orang-orang yang tetap tinggal di bumi Palestin yang dijajah mereka sejak tahun 1948 M.

• Penegasan dek kerana pendudukan tetap dan tidak akan dihapuskan adapun batasan-batasan persempadanan seperti yang telah ditentukan sejak tahun 1967 M akan mengalami perubahan; dengan itu tembok pemisah aphertheid yang telah dibatalkan oleh mahkamah antarabangsa akan menjadi batasan Negara Palestin dan menjadi penjara bagi Negara Palestin, sedangkan penghancuran sebahagian pemukiman, dan kosong menjadi aset dan tujuan yang memungkinkan zionis untuk membangunkannya.

• Al-Quds merupakan masalah sulit dan berat, yang tidak mungkin diselesaikan secara mudah; sehingga sulit pula untuk dikembalikan masalah al-Quds hanya kepada bangsa Arab.

Namun para pemimpin Arab semuanya diam saat berhadapan jumpa sekutu bersama presiden Amerika dan tidak memberikan sikap apa-apa, disela-sela pelaksanaan perundingan dan proses perdamaian baik tentang inti mahupun tujuannya pertemuan tersebut. Jadi apa yang dimaksud dengan diamnya mereka tersebut? Apakah setuju atau kerana lemah…?! Hal tersebut tampak jelas disaat menghadiri muktamar Annapolis yang bertujuan menyelesaikan qadhiyah Palestin, lalu presiden Bush melakukan kunjungan guna merealisasikan konsep dan langkah syaitan tersebut sebelum bertolak menuju white house.

Namun disaat berlangsungnya perundingan antara presiden Mahmud Abbas dan kelompok perunding yang dicap sebagai teroris, serangan kembali terjadi, tangan-tangan mereka telah berlumuran darah bangsa Palestin di Gaza dan Difah bagian barat, namun mereka tetap diam seakan merupakan penyerahan diri secara tidak terhormat (hina), berjalan mengikuti kenderaan Zionis. Sebagaimana mereka juga - dalam menyelesaikan permasalahan Palestin - menggunakan sebahagian tangan-tangan para pemuda Palestin yang tidak berdosa sehingga terjerumus dalam kursi kekuasaan pada lembaga-lembaga yang samar sehingga – seakan - menjadi refresentatif seluruh bangsa Palestin, terutama pada lembaga kemerdekaan Palestin (PLO), lembaga yang berusaha dengan gigih ingin menghilangkan lembaga-lembaga syar’iyyah (legal) demi kepentingan kelompok lain yang mahu berunding dan bekerjasama dengan musuh zionis.

Masih berlangsungnya pengepungan dan isolasi terhadap Gaza hingga mencapai hari yang ke 225; bertujuan membuat lapar warga Palestin yang berjumlah 1,5 juta, bahkan mereka mencuba untuk membunuhnya secara perlahan dengan menahan pasukan makanan dan ubat-ubatan. Sekalipun demikian, warga Gaza tetap bertahan, namun sumbangan para pemimpin Arab terhadap pengepungan tersebut merupakan sebuah pengkhianatan besar terhadap jihad rakyat Palestin, bahkan meminta untuk segera melakukan occupasi pengepungan dengan menggunakan alat dan teknologi canggih untuk menghancurkan terowongan yang merupakan sumber penghubung kehidupan satu-satunya saat ini agar dapat memasukkan sebahagian bahan makanan dan ubat-ubatan, para pemimpin Arab seakan memiliki saham dalam membunuh bangsa Arab yang bertahan untuk melawan dan berjihad menghadapi peralatan perang Amerika dan Zionis.

Hal ini terjadi disaat situasi yang di dalamnya menuntut para pembesar dan pemimpin Arab melakukan boikot dan penghentian terhadap berbagai usaha penghancuran yang dilakukan oleh Negara-negara penjajah, dan menuntut penggantian secara adil dan bijaksana seperti yang terjadi di berbagai Negara di dunia terhadap harta yang dirampas oleh negara-negara penjajah.

Kegigihan sebahagian kelompok perlawanan dalam menghadapi berbagai bentuk penyerangan dari musuh aphartheid, perilaku keji dan aksi ganas mereka sekalipun terus berlangsung pengepungan dan ketiadaan senjata moden, namun sekalipun demikian kegigihan dan usaha perlawanan yang tiada henti ini membuat gelisah dan gusar para musuh terutama presiden Amerika yang berusaha melakukan lawatan untuk mencari dukungan Arab melawan gerakan-gerakan pembebasan dan perlawan; baik Hamas, Jihad Islam dan Hizbullah… dan mereka tidak bersatu semuanya kecuali untuk melakukan dan usaha yang keras perlawanan terhadap musuh zionis.

Perlawanan yang berani ini merupakan tanda kemuliaan umat Islam, yang harus di dukung dan disokong dengan berbagai macam cara, dan bagi bangsa Arab dan umat Islam hendaknya terus mendukung para pahlawan tersebut dan menekan para penguasa dan pemimpin negara-negara Arab dan Islam hingga mahu merubah sikap politiknya atau menjauhi dari politik Amerika.

Bekas-bekas keganasan yang menghancurkan yang dilakukan Amerika terhadap beberapa tempat masih tampak dihadapan; merupakan permasalahan Palestin salah satu bahagian kecil permasalahan setelah yang sebelumnya menjadi permasalahan utama bangsa Arab dan umat Islam; seperti yang terjadi di Pakistan, Afghanistan hingga Iraq dan Lubnan, lalu menyebar ke negara Somalia dan Sudan hingga Kenya.

Sehingga dengan itu semua setiap negara sibuk dengan urusannya sendiri, mengurus krisis dan kekacauan yang di dukungi oleh Amerika, adanya ancaman yang dilakukan oleh Amerika seperti yang sedang dilakukan saat ini terhadap Iran, Teluk, Saudi dan Mesir; sehingga membuat perhatian bangsa Arab dan umat Islam menjadi bercabang, cukuplah para korban yang terus berjatuhan di Iraq menjadi saksi dan menjadi pertumpahan yang paling besar di seluruh penjuru dunia.

Oleh kerana situasi yang meruncing ini, permasalahan Palestin yang masih terus berlangsung membuat kita yakin akan hakikat berikut:

• Permasalahan Palestin akan tetap merupakan permasalahan Arab dan kaum Muslimin yang utama dan asasi, dan kita bertekad akan terus bekerja dan berjihad demi untuk mengembalikan bumi Palestin, pembebasan dan mengembalikan Al-Quds yang dimuliakan serta kembalinya para pelarian dari daerah pusat pelarian mereka.

• Oleh kerana penentangan akan tetap menjadi satu-satunya jalan dalam membebaskan bumi Palestin, kerana kegagalan demi kegalalan telah dialami oleh mereka yang melakukan perundingan dan kesepakatan yang berakhir dengan pahit dan getir, hingga kembalinya kepada Allah presiden Arafat – rahimahullah - yang masih ada dalam ingatan kita.

• Para pemikir strategi Amerika dan Zionis akan terus mengalami kegagalan setelah terperosok dalam jurang perang di Afghanistan dan Iraq dihadapan para penentang mereka yang kian gagah dan keras dari hari ke hari, hingga nantinya tentara Amerika akan lari dari Iraq dengan wajah yang ditutup kerana malu, setelah mereka menyebarkan kehancuran dan kerosakan, dan kami akan terus menuntut dalam forum-forum antarabangsa untuk mengganti segala kerugian akibat kekejaman dan tindakan penghancuran yang mereka lakukan di negeri kami.

• Umat Islam tentunya akan terus menyempurnakan aqidah dan keimanannya, peradaban dan sejarahnya melalui agama Islam yang menjadi asbab perjuangan dan keberadaannya dan sumber kebangkitan, kerana umat Islam tidak akan mampu bangkit kecuali melalui agama yang agung ini, baik nilai-nilainya dan peradabannya, “dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali”. (As-syu’ara: 227). Maha benar Allah atas segala firman-Nya.

Salawat dan salam atas nabi Muhammad saw beserta keluarga dan sahabat. Dan segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam. []

Pendokong Dakwah Dan Tarbiyah

Thursday, January 24, 2008 0 comments


Pendokong Dakwah Dan Tarbiyah

Hanya dengan menjadi Pendokong D & T (pendokong aqidah) kita akan dapat mengecapi nikmat hidup yang sebenar; Umur kita menjadi panjang...sepanjang umur dakwah. Dunia kita menjadi luas, sbg medan Amal dan Tarbiyyah. Hidup dipenuhi Cinta dan Kasih Sayang, Dada terasa lapang dengan Iman dan Ukhuwah, Halangan dan Cabaran menjadi dapur pembakar semangat dan meleburkan rasa lemah dan cuai, Pengalaman mematangkan akal dan fikiran, langkah diatur dengan penuh pengharapan, Janji2 Allah menjadi pengubat duka lara, sirah sahabat menjadi penghibur dan pendorong semangat, kisah2 ulamak menjadi lampu penyuluh hidup..... Alangkah beruntungnya mereka yang hidup untuk 'Aqidah yang benar, Merasa mulia dengan Islam.

"Kita merasa cukup gembira melihat bunga yang sedang mekar itu (generasi muda). Kita benar-benar menghargai, menyanjungi dan menyintai mereka dan kita bertanggungjawab terhadap mereka. Kita wajib mengemukakan pengalaman-pengalaman kita supaya mereka bermula di mana kita telah sampai, supaya sempurnalah percantuman di antara dua generasi. Generasi yang telah tua dan generasi yang baru muncul. Kelak diharapkan mereka mewarisi amanah ini secara keseluruhan, kemurniaanya dan iltizam dengan kitab Allah s.w.t. serta sunnah Rasullah s.a.w. juga sunnah salafussoleh r.a." (Mustafa Masyhur)


Hijrah Sebagai Manhaj untuk Membangun Umat

Friday, January 18, 2008 0 comments

Hijrah… Sebagai Manhaj untuk Membangun Umat

Risalah dari Dr. Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Al-Ikhwan Al-Muslimun, 10/1/2008

Bismillah, was sholatu was salam ala Rasulillah wa man waalaah, …

Kita menyambut tahun baru hijrah yang memiliki banyak khabar gembira yang meliputi kita…

Betapa kita amat memerlukan pada hari ini memiliki azam dan kesungguhan untuk mengembalikan kemuliaan dengan semangat dan keteguhan jiwa!! Betapa kita perlu pada hari ini – sementara umat pada saat ini sudah menjadi pengekor bagi musuh-musuhnya - memulai langkah-langkah baru untuk membangunnya kembali!! Dan tahun baru hijrah datang dengan kesaksian-kesaksiannya dan peristiwa-peristiwanya merupakan sebuah manhaj yang memberikan ilham kepada para mukhlisin akan sebuah asas-asas bangunan; bahawa hijrah merupakan perpindahan dari fasa kesabaran terhadap siksaan di kota Makkah menuju fasa kesabaran terhadap dakwah dan pergerakan dalam risalah Islam. Hijrah dari fasa keimanan dan pembinaan individu menuju fasa pembangunan masyarakat dan pembentukan umat dengan syariat Allah SWT.

Pembentukan tersebut yang dimulai pada awalnya dengan keimanan yang benar dan kerja yang tiada henti.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-Baqarah: 218).

Bukan bererti lari dan menghindar dari penghadangan (berhadapan dengan musuh), namun merupakan pemisahan antara kebenaran dan kebatilan dengan cara mujahadah (sungguh-sungguh), mengerahkan tenaga dan jiwa dan tadhiyah (pengorbanan), untuk mempersiapkan taktik lain dalam menghadapinya, kerana itu Allah menyamakannya dengan jihad di jalan Allah.

Sungguh langkah dan strategi ini tidak akan berjaya kecuali dengan mengikuti pendekatan hijrah dan adanya perasaan kebersamaan dengan Allah, tsiqoh yang sempurna akan kemenangan Allah di masa mendatang:

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (iaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita” (At-taubah: 40).

Dan pertolongan Allah bergantung pada apa yang dihadirkan oleh para generasi umat melalui pengorbanan dengan segala apa yang dimiliki, sekalipun kerosakan dan persekongkolan mengelilingi mereka; disaat mereka menghiasi diri dengan keinginan yang kuat dan semangat yang tinggi; kerana Allah berkuasa atas segala perkaranya…

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya” (Al-Anfal: 30).

Apakah kita memiliki hijrah yang sebenarnya?!

Hijrah dari keadaan yang lemah menuju penyerahan diri kepada Allah, hijrah dari kehinaan menuju kemuliaan untuk bergerak di jalan iman, hijrah dari kemalasan menuju kesungguhan menghadapi pelbagai tentangan kehidupan, hijrah dari kemunduran yang menghinakan menuju kemajuan dan kemuliaan; sehingga terwujud manhaj hijrah tersebut dalam membina generasi pemuda belia pemberani seperti Imam Ali RA, pemuda yang berani seperti sikap Abdullah bin Abu Bakar, lelaki yang berani berkorban seperti Suhaib, wanita yang memiliki peranan aktif dalam risalah seperti pemilik dua selendang (dzatu nithoqoin), keluarga yang taat seperti sikap keluarga Abu Salamah dan jamaah yang memiliki strategi dan persiapan dan membentuk manusia untuk berkorban dan bekerja di jalan Allah.

Dari situlah cahaya umat akan memancar kembali; jika terwujud hijrah yang sebenarnya; hijrah dari kezaliman menuju keadilan, dari kezaliman menuju persamaan, dari penindasan menuju kebebasan, dari kehinaan menuju kemuliaan, dari kenistaan menuju keperkasaan, yang dengannya dapat mengeluarkan diri dari pengikut pada projek-projek Zionis dan Amerika – yang telah membebani umat dengan banyak hutang kepada menuju kesempurnaan ajaran Islam dan ekonomi saling tolong menolong, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi SAW dengan membangun pasar Islam setelah hijrah, menghapus pengangguran dan mendirikan bangunan ekonomi kebersamaan; sehingga tidak ada kefakiran, tidak ada cara, tidak ada alasan dan tidak ada hijrah bagi setiap pemuda untuk lari dari kemiskinan menuju kematian!!

Hijrah dari keadaan lemah dan kekuasaan politik yang menindas dan zalim menuju meningkatnya keinginan yang kuat untuk membangun peradaban yang integral, terikat hubungan kemanusiaannya dengan Allah yang menguasai langit dan bumi, sehingga dapat menghindar dari buruknya lari dari perang dan perseteruan buta, jahatnya pembunuhan dan kekerasan, dan kejamnya perampasan dan penindasan hak.

Hijrah yang dapat meningkatnya umat dari ketidakbersamaan dan perpecahan menuju umat yang satu, diawali dari hijrah dalam piagam Madinah yang ditulis oleh Nabi SAW seperti: “inilah tulisan dari Muhammad sang nabi antara orang-orang yang beriman, kaum muslimin dari Quraisy dan Yatsrib, dan orang-orang yang mengikuti dan menyertai mereka serta berjuang bersama mereka.. mereka adalah umat yang satu dari seluruh manusia”.

Marilah kita bangkit; kerana hal tersebut tidaklah sulit

Betapa kita saat ini perlu untuk bangkit seperti bangkitnya umat dahulu; membawa tauhid yang murni yang dipersenjatai dengan ilmu yang tinggi, mengikuti warisan para nabi, menyeru dengan cara dialog dan kaedah serta pendekatan yang baik!!

Kita jadikan Islam sebagai sistem kehidupan; baik ekonomi, politik, sosial dan militer, kerana hal tersebut tidaklah sulit bagi umat yang memiliki sifat ini; Allah SWT berfirman yang bermaksud:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (Ali Imran: 110)

Apatah lagi terhadap umat yang dijadikan oleh Allah umat yang adil.

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” (Al-Baqarah: 143).

Dan sungguh saya hairan dengan keadaan umat saat ini yang mengalami hijrah terhadap akal dan wawasan mereka terutama generasi penerusnya untuk dimanfaatkan oleh orang lain, dan menghalangi warganya untuk mendapatkan ilmu!!

Jadi, hijrah merupakan seruan membangun umat, mulai memperbaiki kedudukannya - sekalipun keadaan yang menyedihkan -; dari kehancuran dan peperangan, pecah belah dan penjajahan; kerana itu umat menuntutkan kita untuk berusaha dengan tiada henti sehingga pertolongan Allah akan datang - dalam waktu terdekat -:

“Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)” (Al-Mu’min: 51)

Dan benarlah sabda Nabi SAW yang memberikan khabar gembira kepada kita hakikat ini:

“Sesungguhnya Allah telah memberikan kepadaku bumi maka aku melihat arah timur dan baratnya, dan sungguh umatku akan mencapai kerajaannya sebagaimana yang telah dinampakkan kepadaku darinya”. (HR. Muslim)

Harapan yang harus diwujudkan ini oleh kita – sebagai individu, masyarakat dan pemerintahan - adalah;

1. Kita harus memiliki ketsiqohan kepada tanggungjawab Deen, walaupun krisis yang mendera begitu kuat, dan yakin bahawa kemenangan umat tidak mustahil.

2. Setiap individu hendaknya bertanya pada dirinya sendiri: Apa peranan saya dalam pembangunan umat setelah terjadi kegagalan pada seluruh manhaj konvensional?! Khususnya di Negara-negara yang dibuatnya sebelum yang lainnya; dari sosialisme, fasisme dan kapitalisme, tidak ada manhaj bagi kita kecuali manhaj Islam dan merupakan satu-satunya projek dalam membangun umat.

Bagaimana kita merealisasikan manhaj Islam

Jika kita ingin merealisasikan manhaj Islam maka kita harus memulai dari hijrah; mentauladani rasul; kerana beliau merupakan tauladan kita; iaitu diawali dengan hijrahnya seseorang terusir dari kota Makkah - Nabi SAW dan sahabatnya - dengan menghadirkan jiwa pengorbanan dan diakhiri dengan tamkin (kejayaan) terhadap risalah yang dipikul oleh Nabi SAW; menuju risalah-risalah perbaikan terhadap raja-raja dan pemerintah lainnya yang ada dimuka bumi ini.

Jika kita ingin membangun umat atas dasar manhaj Islam maka kita harus memulai dari hijrah; dengan membentuk generasi seperti masa awal, berdasarkan pemahaman, kesedaran dan pengetahuan, baik laki-laki maupun perempuan.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka” (Al-Fath: 29).

Generasi yang teguh dengan cinta, kukuh dengan persaudaraan (ukhuwah)

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Ansar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Ansar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan” (Al-Hasyr: 9).

Dan generasi yang memenuhi janji dalam dakwahnya, mencintai kampungnya, yang selalu mengulang ungkapan Nabi SAW:

“Demi Allah, sungguh aku sangat tahu bahawa engkau adalah sebaik-baik bumi Allah, dan bumi yang paling dicintai kepada Allah, sekiranya jika wargamu tidak mengusirku darimu maka aku tidak akan keluar”.

Saya berterus terang kepada kalian

Saya berterus terang kepada kalian bahawa pembangunan umat berawal pada:

1. Hijrah individu; (kerana makna)

“orang yang berhijrah adalah yang mampu menghijrahkan dirinya terhadap apa yang dilarang Allah” (HR. Bukhari)

Dari sinilah kita memulai sebuah perubahan; melalui taubat dan meninggalkan maksiat dan dosa;

“Tidak akan berhenti hijrah hingga berhenti taubat, dan tidak akan berhenti taubat hingga matahari terbit dari arah barat”. (HR. Abu Daud)

2. Hijrah secara jamaah dan Negara… iaitu berhijrah dari saling mencela dan mencaci, melakukan pembunuhan, kezaliman, kebatilan dan segala yang dimurkai Allah; ketika Nabi SAW ditanya:

“Hijrah apakah yang paling utama wahai Rasulullah: beliau menjawab: hijrah dari apa yang dibenci Allah”.

Jika seluruh isi dunia melakukan hijrah kepada Allah - kerana para nabi seluruhnya juga melakukan hijrah kepada Allah -, dan pada hari ini Zionis telah merampas negeri kita, berkorban dengan harta dan kedudukan mereka; dengan alasan “al-hijrah” namun untuk melakukan kerosakan, penjajahan dan perampasan, Amerika menjajah negeri kita untuk merampas kekayaan kita dan menguasai sumber daya kita.. apakah telah datang kepada kita saatnya hijrah kepada Allah secara hakiki, sehingga dapat kita umumkan dengan lantang: Hijrah kepada Allah untuk membebaskan negeri dan melawan serta menghadapi kezaliman, kerosakan dan penindasan?! Sabda Nabi saw.:

“Maka barangsiapa yang hijrahnya (ingin mendapat keridhaan) Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya dan barangsiapa yang hijrahnya kerana dunia yang dikehendakinya dan wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan”.

Salawat dan salam atas nabi kita Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat dan akhir doa kita adalah bahawa segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam.

Penterjemah: Abu Ahmad

PENGERTIAN TARBIYYAH

Saturday, January 5, 2008 0 comments


MANHAJ TARBIYYAH:

PENGERTIAN TARBIYYAH




Tarbiyah berasal daripada perkataan Arab yang membawa erti penjagaan, pengasuhan dan pendidikan. Tarbiyah Islamiyah pula ialah penjagaan, pengasuhan dan pendidikan berasaskan sumber al-Quran al-Karim dan Sunnah Rasulullah SAW. Sumber-sumber ini adalah sumber-sumber rabbani. Dengan sumber inilah generasi sahabat dididik oleh Rasulullah SAW sehingga berjaya melahirkan generasi rabbani yang mendapat jolokan dan pujian daripada Allah seperti yang disebutkan di dalam al-Quran al-Karim :

“Kamu adalah sebaik-baik ummah yang dikeluarkan untuk manusia. Kamu menyuruh berbuat kebaikan, melarang berbuat kemungkaran dan kamu beriman kepada Allah.” (Ali ‘Imran: 110)

Peranan Tarbiyah Islamiyah.

Tarbiyah memainkan peranan penting dan berkesan dalam kebangkitan, pembangunan dan kemajuan sesuatu masyarakat. Maju atau mundur sesuatu masyarakat bergantung kepada maju atau mundur tarbiyah masyarakat tersebut. Oleh itu tarbiyah perlu diberi keutamaan dalam perancangan pembangunan sesuatu masyarakat. Sejarah Rasulullah SAW sendiri menjelaskan bahawa tarbiyah menjadi faktor utama untuk membangunkan manusia yang mampu menyelesaikan sebarang masalah yang timbul.

Titik Tolak Tarbiyah Islamiyah.
Di dalam ‘Tarbiyah ar-Ruhiyah’, Said Hawa menjelaskan bahawa asas dan titik tolak didikan Islam adalah iman.
Dr Abdul Karim Zaidan pula di dalam ‘Usul ad-Dakwah’ menghuraikan dengan panjang lebar mengenai peraturan asas pembentukan masyarakat Islam. Katanya, asas pembentukan masyarakat dalam Islam ialah aqidah Islam yakni tauhid Rububiyatillah dan tauhid Uluhiyatillah. "Setiap manusia dituntut meyakini aqidah ini supaya ia mengetahui hakikat diri dan letak duduknya manusia itu dalam hidup supaya faham mengapa manusia itu dijadikan, memahami hubungan dan pimpinan akal fikiran manusia, tindak lakunya dan segala aktivitinya dihubungkan dengan Allah swt,” tulis beliau.

Sehubungan itu, Muhammad Shadid dalam ‘Manhaj al-Quran fi-tarbiyah’ telah menyingkap kembali sejarah dengan menjelaskan bahawa Rasulullah SAW adalah utusan Allah SWT. Baginda adalah contoh utama dan qudwah hasanah serta pelaksana manhaj al-Quran.
Baginda adalah pendakwah yang amat faham tentang dakwahnya dan murabbi (pendidik) yang dianugerahkan segala sifat sebagai murabbi. Baginda mengajak sahabatnya dan orang ramai beriman kepada Allah, menghubungkan mereka dengan al-Quran dan memberi kefahaman bahawa al-Quran adalah arahan daripada Allah SWT untuk dilaksanakan. Arahan itu hanya akan diterima oleh hati yang beriman. Oleh itu, menurut Said Hawa, pemusatan perlu diberi kepada proses pendidikan untuk memastikan lahir titik tolak yang betul.

Tarbiyah Imaniyah Dalam Semua Aspek.
Iman tidak boleh dipisahkan daripada sebarang kegiatan hidup manusia. Setiap pekerjaan yang dilakukan hendaklah dibina dan didorong oleh iman kepada Allah SWT. Dengan itu, barulah pekerjaan itu dikira sebagai ‘ubudiyah (ibadah) kepada Allah SWT. Menurut Mustafa Masyhur, ibadah yang sahih (betul) lahir daripada aqidah yang baik. Perkataan ibadah itu mempunyai sifat kesyumulannya dan merangkumi segala urusan hidup, tidak terbatas kepada sembahyang, puasa, zakat dan haji sahaja kerana risalah dan tugas manusia dalam hidup ini ialah beribadah kepada Allah. Hidup seluruhnya ialah ibadah kepada Allah.

“Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada Aku.”
(Al-Zariyat: 56)

Oleh itu setiap muslim mestilah bersungguh-sungguh merealisasikan pengertian ini dengan niat yang betul dalam setiap pekerjaan mereka. Dengan itu, barulah makan minum, ilmu dan amalan, riadah dan perkahwinan menjadi wasilah (jalan) mentaati Allah. Rumah menjadi mihrab (tempat beribadah kepada Allah). Begitu juga sekolah, kolej, kilang, tempat perniagaan, kebun, ladang, sawah, padang permainan, malah dunia seluruhnya menjadi tempat beribadah kepada Allah SWT. Dengan perkataan lain, segala usaha dan perkataan yang terbit daripada seorang muslim merupakan ibadah kepada Allah.
Dengan itu hubungan sentiasa wujud antara hamba dengan Penciptanya dalam semua aspek kehidupan. Semua urusan dirujuk kepada syariat Allah SWT.

Hubungan hati manusia dengan Allah pada setiap masa adalah asas utama bagi melaksanakan tarbiyah Islamiyah dengan berkesan.
Aspek rabbani dalam tarbiyah Islamiyah adalah aspek yang paling penting kerana matlamat pendidikan Islam ialah melahirkan insan mukmin dalam pengertian sebenar iaitu insan yang memiliki iman yang menguasai hati dan fikiran, lahir dalam bentuk amalan dan tindakan, seperti yang disebutkan dalam al-athar: “...Ia sebati dalam jiwa dan dibenarkan dalam bentuk amalan.” Allah berfirman :

“Sesungguhnya orang yang beriman ialah orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah.” (Al-Hujurat: 15)

Tunggak tarbiyah rabbaniyah ialah hati yang subur, sentiasa berhubung dengan Allah SWT, yakin akan menemui-Nya, mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Jiwa yang hidup inilah yang menjadi tumpuan Allah swt untuk dicampakkan nur kepadanya. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa bentuk kamu tetapi Dia melihat kepada hati dan amalanmu.”


“Pada hari di mana tidak berguna harta dan anak pinak kecuali mereka yang balik kepada Allah dengan hati yang (sejahtera).”


Tarbiyah Islamiyah berusaha menghidupkan jiwa supaya tidak mati, memakmurkannya supaya tidak binasa dan melembutkannya supaya tidak keras kerana hati yang keras dan akal yang beku merupakan satu kemungkaran yang perlu diminta perlindungan Allah SWT daripadanya.


“Adapun Nabi SAW meminta perlindungan daripada Allah SWT daripada ilmu yang tidak bermanfaat dan daripada hati yang tidak khusyu’.”

Hati Yang Soleh.
Baik buruk seseorang itu berpunca daripada hatinya. Tepat seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadithnya yang bermaksud: “Ketahuilah di dalam jasad manusia terdapat seketul daging, jika baik ketulan itu maka baiklah seluruh jasadnya, tetapi jika rosak maka rosaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah ia adalah hati.” Oleh itu membaiki dan merawat hati daripada sebarang penyakit perlu diberi keutamaan. Jiwa perlu dibersihkan daripada sebarang syirik dan sifat yang tercela seperti hasad, ‘ujub, takkabur, bakhil, cintakan dunia, menurut hawa nafsu dan sebagainya. Menurut Ibn Qaiyyim al-Jauzi, hati itu menjadi baik apabila ia mengenali Allah yang menciptanya, nama-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya dan peraturan-Nya. Hati yang sihat akan mengutamakan keredaan Allah dan mencintai apa yang disukai Allah serta menjauhi segala tegahan dan perkara yang dimurkai-Nya.

Realiti Masyarakat Islam Kini.
Adalah satu hakikat yang mudah difahami iaitu manusia hendaklah menjadi muslim dan dididik dengan didikan Islam. Bagaimanapun perkara semudah ini tidak difahami oleh umat Islam hari ini atau kabur bagi mereka. Umat Islam hari ini rata-rata kehilangan sahsiah atau identiti sebagai umat pilihan, hilang kekuatan dan terumbang-ambing menjadi buih, tidak digeruni atau disegani lagi seperti yang disebutkan oleh Rasulullah SAW yang bermaksud:

“Hampir seluruh umat manusia bersatu menghancurkan kamu seperti orang yang sedang lapar menghadapi hidangan makanan. Mereka bertanya: ‘Apakah kita sedikit pada masa itu, wahai Rasulullah?’ Jawab baginda: ‘Malah kamu banyak, tapi kamu laksana buih air bah.”

Dasar Penyelesaian Islam.
Masalah manusia hari ini tidak akan dapat dirungkaikan kecuali kembali kepada Islam. Islam pula tidak dapat memainkan fungsinya melainkan wujud para pendokong (‘amilinnya).
Meneliti sejarah Rasulullah SAW, para pendokong dibentuk dan diproses melalui Tarbiyah Islamiyah yang mengikrarkan ‘ubudiyah hanya kepada Allah; ‘ubudiyah yang merangkumi i’tiqad, ibadah dan peraturan yang benar-benar berjalan dalam amalan hidup mereka. Proses ‘ubudiyah seperti ini akan membersihkan jiwa mereka daripada beriman kepada yang lain dan mengawasi amalan mereka daripada bermatlamatkan yang lain daripada Allah semata-mata. Melalui proses ini sahajalah ummah Islamiyah dapat dibentuk.

Ummah ini akan menjadi dasar penyelesaian Islam. Ummah yang dianggotai oleh mereka yang melalui proses pembentukan yang bertolak daripada kalimah tauhid yang diikrarkan oleh setiap anggotanya iaitu ‘La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah’.
Selagi ikrar ini tidak lahir dalam bentuk amalan individu mahupun masyarakat sebagai natijah proses pembentukan itu, mereka belum layak untuk menganggotai ummah muslimah dalam pengertian sebenar.

Konsep yang tegas dan jelas ini perlu difahami oleh setiap muslim yang telah bertekad untuk memutuskan hubungannya dengan jahiliah dan mengikrarkan ‘ubudiyahnya hanya bagi Allah SWT.
Kefahaman yang jelas ini penting supaya amalan hidup setiap muslim adalah benar-benar merupakan ibadah yang diredhai Allah SWT. Dengan perkataan lain ikrar itu menjadi kaedah atau asas bagi suatu sistem yang lengkap dan praktik. Dengan itu, kehidupan ummah Islamiah benar-benar diasas dan dikawal oleh kaedah ini, bukan kaedah lain atau bersama kaedah lain. Allah berfiman dalam Surah Yusuf, ayat 40 :

“Keputusan hukum itu kepunyaan Allah. Dia memerintahkan supaya jangan tunduk memperhambakan diri melainkan kepada-Nya. Itulah din (agama) yang benar.”

Dalam Surah An-Nisa’, ayat 80 pula Allah berfirman :

“Siapa yang mematuhi Rasul maka sesungguhnya ia mematuhi Allah.”

Berdasarkan kepada proses pembentukan dan pembangunan itu, maka langkah pertama ialah membersihkan jiwa anggota daripada ‘ubudiyah kepada yang lain daripada Allah swt sama ada dalam bentuk i’tiqad, ibadah dan syariat. Ummah yang dianggotai mereka yang sudah bersih hati dan jiwa sahaja yang dapat membangunkan masyarakat Islam.
Ummah yang dibangunkan di atas dasar tauhid tidak dapat diwujudkan kecuali setelah tencapai suatu tingkat kekuatan yang mampu menghadapi cabaran dan tekanan masyarakat jahiliyah. Kekuatan yang dimaksudkan ialah kekuatan aqidah, kekuatan syariah, kekuatan ahklak, kekuatan organisasi, kekuatan ilmu dan pelbagai jenis kekuatan yang diperlukan bagi menentang sistem jahiliyah atau sekurang-kurangnya mampu mempertahankan diri daripada dikuasai jahiliyah.

Salah Faham Terhadap Islam - 2

0 comments

Salah Faham Terhadap Islam

Bab: Islam dan Perhambaan 2

Antara isu yang sering dimainkan oleh orientalis Barat ialah bagaimana Islam boleh mendabik sebagai agama yang sesuai sepanjang zaman sedangkan ia masih menghalalkan penghambaan. Adakah Allah selamanya ingin membahagikan manusia kepada golongan tuan dan hamba? Seandainya tidak, mengapakah Islam tidak mengharamkan secara tegas di dalam al-Qur’an sebagaimana ia mengharamkan arak, judi dan riba?

Sememangnya seluruh ajaran Islam adalah bertujuan membebaskan manusia keseluruhannya dari perhambaan sesama manusia. Untuk memahami hakikat ini, kita perlu mengimbau sejarah penghambaan yang berlaku di Barat itu sendiri. Apabila dibandingkan antara Islam dan Barat, kekejaman penghambaan yang berlaku di Rom purba tidak pernah berlaku dalam sejarah Islam. Sebagai buktinya, dalam tradisi Rom purba, hamba abdi tidak sedikitpun mempunyai hak selaku manusia. Penghambaan hasil dari penaklukan dan perluasan empayar adalah semata-mata untuk membolehkan orang Rom hidup dalam kemewahan dan kerakusan nafsu.

Pada zaman tersebut, hamba abdi terpaksa bekerja di ladang-ladang dengan kaki dibelenggu rantai yang berat. Mereka diberi makanan sekadar untuk melapik perut. Bahkan kaum hamba abdi disebat dengan ganas dan terpaksa tidur di dalam penjara-penjara gelap yang busuk dan kotor. Kadang-kala satu bilik penjara dimuatkan sehingga 50 orang hamba. Namun, mungkin yang paling kejam adalah apabila hamba-hamba tadi dipaksa menyertai pertandingan di mana hamba-abdi disuruh membunuh sesama sendiri. Acara pertandingan yang menjadi gilaan pembesar dan rakyat ketika itu dipenuhi dengan tepuk sorak dan ketawa hilai apabila hamba-hamba yang bertanding sesama sendiri membunuh lawannya.

Tuan kepada hamba mempunyai hak mutlak ke atas hambanya sama ada untuk menyiksa, menghina atau membunuh mereka sesuka hati. Sedihny, hamba-hamba ini tidak ada hak untuk mengadu di sisi undang-undang. Senario yang hampir sama juga berlaku di Parsi, India dan neger-negeri lain.

Bab : Islam dan Perhambaan 2

Apabila Islam datang ke dalam masyarakat jahiliyyah, ia telah memberi amaran tegas kepada tuan punya hamba, “Sesiapa yang membunuh hambanya akan dibunuh balas; sesiapa yang mencederakan hambanya akan dicedera balas.” Jelas di sini Islam menyamaratakan status manusia, sama ada dari kalangan atasan, hamba sahaya, bangsa atau kaum, semuanya sama di sisi Islam.

Islam menyatakan bahawa hubungan antara tuan dan hambanya bukan bertujuan untuk menindas, menghina atau mengeksploitasi, sebaliknya ia bersifat persaudaraan dan kasih sayang. Sabda Nabi S.A.W., “Hamba abdi kamu adalah saudara kamu, sesiapa yang memiliki saudaranya maka hendaklah ia memberinya makanan yang sama dengan makanan yang dimakan olehnya dan memberi pakaian yang sama dengan pakaian yang dipakai olehnya dan janganlah kamu bebankan mereka dengan kerja yang diluar kesanggupan mereka dan jika kamu menyuruh mereka melakukan kerja-kerja yang berat maka hendaklah kamu membantu mereka” (Riwayah al-Bukhari).

Kehebatan cara Islam menangani permasalahan hamba sahaya turut mendapat sanjungan pejuang-pejuang salib Eropah. Pejuang-pejuang ini menyatakan bahawa layanan terhadap hamba abdi di zaman permulaan Islam tidak pernah berlaku di tempat-tempat lain sebelum ini di mana hamba yang telah mendapat kemerdekaan enggan berpisah dengan tuan mereka kerana telah menganggap diri mereka sebagai sebahagian daripada anggota keluarga tuan mereka. Rasulullah S.A.W. sendiri melarang tuan punya hamba mengungkit-ungkit status hamba mereka, malah menyuruh tuan punya hamba berkata-kata dengan rasa kasih-sayang.

Pembebasan hamba di zaman permulaan Islam berlaku dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pembebasan dari aspek rohaniah sebagaimana yang telah dinyatakan sebelum ini. Tahap kedua pula adalah tahap pembebasan secara fizikal. Dalam tahap ini pembebasan dilakukan melalui dua cara. Pertama, tuan punya hamba membebaskan secara sukarela. Kedua, hamba abdi diberi hak untuk menebus diri. Pihak Baitulmal juga memainkan peranan membeli hamba-hamba abdi dan membebaskan mereka kembali.

Selain itu, pembebasan hamba abdi dijadikan syarat untuk menebus dosa-dosa. Firman Allah S.W.T., “Siapa yang membunuh seorang Islam yang lain tanpa sengaja, maka hendaklah ia membebaskan seorang hamba dan membayar sejumlah wang sagu hati kepada keluarganya.”

Hamba abdi boleh menebus diri mereka dengan membayar sejumlah wang tebusan dan tuan punya hamba wajib memberi kebebasan kepada hamba mereka yang telah selesai membayar wang tebusan diri. Walaupun peraturan sebegini juga turut diamalkan di Eropah tujuh abab kemudian, namun tiada undang-undang yang mewajibkan tuan punya hamba membebaskan hamba mereka setelah dibayar wang tebusan tersebut. Maka tiada jaminan hamba abdi di Eropah dapat membebaskan diri secara mutlak.

Salah Faham Terhadap Islam

0 comments


Sumber: Salah Faham Terhadap Islam

Bab: Adakah Agama Sudah Lapuk?

Menurut Muhammad Qutb, dalam abad ke-18 dan ke-19, pemikir-pemikir dari Barat telah terpesona dengan kemajuan sains yang pesat, lalu menganggap fungsi agama sudah lagi relevan. Antara ilmuwan Barat yang dimaksudkan adalah Sigmund Freud, seorang ahli psikologi yang terkenal. Freud telah membahagikan perkembangan jiwa manusia kepada 3 peringkat iaitu peringkat mempercayai tahyul, peringkat mempercayai agama dan peringkat mempercayai sains.

Teori ini timbul disebabkan pergolakan antara pemikir-pemikir Barat dengan pihak gereja yang ketika itu mengamalkan ajaran karut dan kolot. Malangnya, umat Islam telah meniru pemikiran dan teori-teori Barat untuk dijadikan model kemajuan.

Pegangan pemikir-pemikir ini sebenarnya telah terperangkap dalam teori mereka sendiri kerana ilmu sains itu sendiri berubah-ubah, maka pendirian mereka terhadap sesuatu turut tidak tetap. Contohnya, perubahan-perubahan dalam sistem sosial, politik dan ekonomi telah menyebabkan pergolakan hidup mereka. Hasilnya jiwa mereka sentiasa tidak tenteram.

Manusia berlumba-lumba untuk mendapatkan nikmat dunia secara zalim akibat tiada kepercayaan kepada hari kebangkitan dan pembalasan. Panduan aqal ditinggalkan, panduan nafsu dituruti. Akibat mengikut nafsu, manusia telah menurunkan sendiri tarafnya. Natijah daripada semua ini, ilmu hanya menjadi alat untuk membuat kerosakan di muka bumi.

Persoalan timbul, apakah faktor yang membolehkan pejuang-pejuang aqidah menentang kuasa-kuasa zalim ini? Dengan mehnah dan tribulasi yang bakal dihadapi, apakah faedahnya mereka memperjuangkan aqidah? Jawapannya, ketabahan dan kesabaran yang datang dari agama itulah yang memacu perjuangan mereka. Perjuangan yang berlandaskan faedah dan kepentingan peribadi hanya berjaya menyelesaikan masalah buat sementara. Perjuangan berlandaskan dendam dan dengki hanya akan bertukar kepada satu bentuk kezaliman yang lain pula, menggantikan kezaliman yang sedia ada.

Menurut Muhammad Qutb lagi, penjajah Barat telah menyusun silibus yang hanya mengajar bahawa Islam diturunkan untuk melarang penyembahan berhala, mengharam judi dan arak serta perbuatan keji yang lain. Kemudian tugas umat Islam ialah mengembangkan dakwah. Kini, setelah Islam berkembang ke seluruh dunia, tugas Islam telah berakhir dan kewajipan kini adalah untuk mencari prinsip hidup yang moden. Prinsip yang dimaksudkan ialah komunisma, kapitalisma dan sebagainya.

Tujuan Islam sebenarnya belum berakhir kerana tujuan Islam boleh dijelaskan dengan 1 perkataan, iaitu ‘PEMBEBASAN’. Pembebasan dari segala kuasa zalim, yang meragut kehormatan dan maruah manusia. Pembebasan yang mengembalikan kuasa mutlak kepada Yang Maha Esa. Islam menegakkan hakikat bahawa hanya Allah yang memiliki seluruh kerajaan langit dan bumi. Dengan yang demikian, manusia akan bebas dari perasaan takut terhadap manusia lain.



Bab: Adakah Agama Sudah Lapuk? (Siri 2)


Islam juga membebaskan manusia daripada penghambaan terhadap hawa nafsu. Keinginan nafsu tidak akan kenyang. Semakin ia dilayan, ia akan semakin rakus ibarat mengejar fatamorgana di padang pasir. Akhirnya, manusia itu sendiri akan menurunkan darjatnya ke taraf haiwan kerana tidak menggunakan panduan aqal, tetapi mengikut nafsunya.

Namun, pembebasan daripada keinginan nafsu tidak bermaksud Islam menganjurkan umatnya supaya hidup seperti paderi-paderi yang tidak boleh berkahwin sama sekali kerana ia menyalahi fitrah manusia. Islam cuma tidak menggalakkan umatnya diperhambakan oleh nafsu, tetapi Islam menganjurkan hidup secara sederhana.

Menurut Dr Muhammad Qutb lagi, tujuan Islam diturunkan juga adalah untuk membebaskan manusia daripada kepercayaan-kepercayaan tahyul dalam bentuk kepercayaan kepada tuhan-tuhan palsu, dongeng-dongeng Yahudi dan khurafat puak gereja Kristian. Islam menyuruh penganutnya menggunakan aqal tanpa menimbulkan menimbulkan pertentangan antara aqal dan agama atau antara sains dan agama. Dengan kefahaman tentang tujuan-tujuan ini, jelaslah bahawa Islam diturunkan agar ia kekal relevan merentas zaman.

Berkenaan perkara khurafat, Dr Muhammad Qutb menegaskan bahawa antara khurafat yang paling menyesatkan ialah khurafat berkaitan sains yang menganggap sesuatu yang tidak dapat diukur atau dikaji oleh sains adalah bohong belaka. Sebagai bukti dakwaan beliau, sains masih lagi tidak dapat membuktikan banyak fenomena ganjil, namun diterima oleh manusia seperti wujudnya ‘telepathy’ atau ‘telekinesis’

Justeru, menurut beliau lagi sains sahaja bukanlah pengukur kepada ketamadunan kerana kita dapati hari ini sains telah membawa manusia ke arah kemajuan tetapi jiwa manusia terus tenggelam dalam kenikmatan syahwat. Sebagai contoh, Amerika Syarikat dianggap maju tetapi keadaan sosialnya merudum dengan teruk sekali. Islam meletakkan ukuran kepada ketamadunan ialah apabila manusia berjaya menakluki keinginan nafsunya.

Apakah kita tidak mengkaji sejarah empayar-empayar terdahulu? Faktor kehancuran empayar-empayar besar dahulu adalah kerana mereka tunduk kepada nafsu. Zaman kebelakangan ini juga kita dapati apabila manusia mengambil nafsu mendahului aqalnya, tanah air sendiri tidak mampu dipertahankan. Contohnya Perancis dalam perang dunia kedua telah menyerah kalah dengan relanya di awal peperangan kerana mereka telah tenggelam ke dalam lautan nafsu.

Hakikatnya Islam adalah agama yang praktikal. Ia merangkumi bidang kerohanian, sosio-politik, ekonomi, perundangan dan sains teknologi. Islam mengimbangkan antara keperluan fizikal, aqal, nafsu dan roh, antara keperluan masyarakat dan individu, antara ekonomi dan kemanuisaan. Ia mempunyai peraturan masyarakat dan sistem ekonomi tersendiri yang mengambil jalan tengah antara sistem komunisma (berpusat kepada kepentingan individu) dan sistem kapitalisma (berpusat kepada kepentingan umum) .

Islam juga telah membuktikan bahawa dunia yang penuh dengan perselisihan antara kaum dapat diamankan dengan keadilan Islam. Ini terbukti dengan sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “…patuhilah kepada pemerintah kamu walaupun dia seorang hamba Habsyi yang berkepala seperti buah anggur (kerinting) selama ia memerintah menurut kitab Allah.” Islam menyelesaikan perbalahan kaum dengan memberi keutamaan kepada syariat Islam, bukan keutamaan kepada kaum kerabat atau bangsa.

Sistem Akhlak dalam Islam

0 comments


Tajuk: Islam dan Dakwah

Bab: Sistem Akhlak dalam Islam

Menurut Dr Abdul Karim Zaidan, akhlak dalam Islam ditakrifkan sebagai nilai-nilai atau sifat-sifat yang telah sebati dalam diri seseorang dan menjadi kayu ukur bagi insan untuk menilai baik-buruknya sesuatu perbuatan.

Akhlak berfungsi sebagai pengatur tingkah laku manusia. Ini berikutan tulisan Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin iaitu, “Setiap sifat yang tersemat dalam hati akan tercerna kesannya pada anggota badan dan akan bergerak menurut sifat ini.” Kata-kata Imam al-Ghazali boleh diumpamakan sebagai akar yang subur yang menghasilkan pokok yang rendang dan tegap. Manakala akar yang sakit akan dapat dikesan pada pokok yang kelihatan lesu dengan dedaun yang kekuningan.

Pertimbangan seseorang bergantung kepada sejauhmana manusia merasai kepentingan nilai tersebut. Jika manusia mengambil berat terhadap nilai-nilai yang tersemat dalam hatinya, pertimbangannya juga turut ke arah kebaikan.

Hakikatnya Islam sentiasa ingatkan penganutnya agar menyematkan akhlak-akhlak yang terpuji dalam hati sehingga merasakannya sebati dan dapat mempengaruhi segala tingkah laku manusia.


Islam meletakkan akhlak di tempat yang tinggi. Bukti kepada pengiktirafan kedudukan akhlak dalam agama Islam dapat dilihat atas beberapa sebab:

1. Matlamat pengutusan Rasulullah S.A.W. adalah untuk memperbaiki akhlak manuisa sebagaimana dalam hadith baginda yang bermaksud: “Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

2. Dalam hadith lain Nabi S.A.W. telah menyebut bahawa perkara yang paling berat timbangannya di akhirat kelak ialah akhlak yang baik.

3. Islam meletakkan orang yang berakhlak baik sebagai mempunyai darjat keimanan yang tinggi.

4. Orang yang berakhlak lebih dikasihi oleh Rasulullah S.A.W. di hari akhirat kelak.

5. Nabi S.A.W. sendiri, walaupun telah diketahui umum sebagai insan yang paling tinggi akhlaknya, masih memohon kepada Allah agar diperelokkan akhlaknya.


Kesyumulan Akhlak Islam

Menurut Dr. Abdul Karim Zaidan lagi, satu ciri yang khusus dalam sistem akhlak Islam ialah kesyumulannya atau ruang lingkup yang dirangkuminya secara menyeluruh. Berbeza dengan pegangan sistem yang ada pada hari ini, akhlak dikesampingkan. Contohnya, dalam hal hubungan antarabangsa. Oleh kerana hubungan yang dijalin tidak berlandaskan prinsip akhlak, amalan pengkhianatan sering berlaku, malah telah dianggap sebagai satu seni dalam berpolitik.

Islam dari awal lagi meletakkan nilai akhlak sebagai suatu dasar negara. Ini dinyatakan dengan jelas dalam firman Allah s.w.t. dalam ayat ke-58 surah Al-Anfaal yang bermaksud jika timbul pengkhianatan dalam perjanjian, maka hendaklah dinyatakan kepada mereka dengan jelas, walaupun ia dilakukan oleh orang bukan Islam mahupun orang Islam sendiri. Pernah berlaku dalam Perjanjian Hudaibiyyah antara Nabi s.a.w. dan pihak musyrikin, seorang Quraisy yang bernama Abu Jandal memeluk Islam lalu meminta supaya Nabi s.a.w. melindunginya.

Oleh kerana perjanjian yang termeterai tidak membenarkan orang Quraisy yang memeluk Islam dilindungi dan hendaklah dikembalikan ke Mekkah, maka Nabi dengan tegas mematuhi perjanjian tersebut. Baginda bersabda, “Kita telah memeterai perjanjian dengan mereka (musyrikin Mekkah). Kita mematuhi perjanjian ini dan mereka juga mematuhinya. Kita tidak akan mengkhianati mereka.”

Sistem akhlak Islam juga berpegang kepada nilai akhlak pada matlamat dan cara. Tiada ruang dalam sistem akhlak Islam untuk “matlamat menghalalkan cara.” Walaupun umat Islam diwajibkan membantu saudara seagama yang dizalimi, namun jika pertolongan tersebut melanggar perjanjian yang termeterai dengan orang yang menzalimi, ia tidak dibolehkan. Hal ini ditegaskan dalam ayat ke-72 surah Al-Anfaal yang bermaksud, “Dan jika mereka meminta pertolongan kepada kamu dalam perkara (menentang musuh untuk membela) agama, maka wajiblah kamu menolongnya, kecuali terhadap kaum yang ada perjanjian di antara kamu dengan mereka. Dan (ingatlah) Allah Maha Melihat akan apa yang kamu lakukan.”

Hubungan Akhlak dengan Iman

Akhlak yang buruk dan iman tidak boleh hidup bersama. Ini kerana iman akan mengalakkan akhlak yang baik. Orang yang benar-benar beriman tidak akan melakukan sesuatu perkara yang bertentangan dengan tatasusila kerana sistem akhlak dalam Islam tertegakkan melalui balasan sama ada hukuman atau ganjaran. Hukuman atau ganjaran boleh dikenakan di dunia atau di akhirat. Keyakinan terhadap sistem balasan ini banyak bergantung kepada iman seseorang.

Menurut Dr. Abdul Karim Zaidan, pada asasnya akhlak seseorang boleh dibentuk dan diubah. Allah s.w.t. telah memerintahkan manusia agar menjauhi akhlak yang buruk dan berusaha memiliki akhlak yang baik. Perintah Allah ini membuktikan bahawa manusia mampu memilih sama ada untuk berakhlak baik atau buruk. Hal ini bertepatan pula dengan kaedah fiqh iaitu taklif hanya menurut kemampuan dan tidak ditaklifkan suatu yang mustahil.

Allah s.w.t. berfirman di dalam surah As-Shams yang bermaksud, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa (jalan) kejahatan dan ketaqwaan. Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang membersihkan jiwa. Dan sesungguhnya rugilah orang-orang yang mengotorkannya.” Walaubagaimanapun, kemampuan manusia untuk mengubah akhlak mereka adalah berbeza-beza. Sesetengah manusia telah dikurniakan oleh-Nya dengan sifat-sifat yang terpuji secara semulajadi. Sifat-sifat ini membantunya memilih jalan yang lurus.

Akhlak boleh dibentuk melalui beberapa kaedah. Pertama, tidak menurut perasaan marah. Secara tidak langsung, ia mengelakan kesan-kesan negatif akibat sifat marah. Namun, kita tidak berupaya membuang sifat tersebut kerana sifat ammarah adalah sifat semulajadi manusia. Kita hanya boleh mengawal dan menyalurkan sifat itu ke arah yang sewajarnya. Nabi s.a.w. bersabda, “Orang yang kuat bukan diukur dengan beradu tenaga tetapi orang yang kuat ialah orang yang mengawal dirinya ketika marah.”

Kaedah kedua ialah mendidik jiwa dengan membuang sifat-sifat yang keji dan menggantikannya dengan sifat terpuji. Cara mendidik jiwa agar membuat amalan-amalan kebaikan dapat dilakukan apabila manusia memahami agama Islam sebagaimana saaabda Nabi s.a.w. , “Manusia ini umpama logam, yang terbaik di kalangan mereka di zaman jahiliyyah adalah juga yang terbaik di zaman Islam apabila mereka memahami (agama ini).”



DAKWAH: PESANAN KHUSUS DAKWAH FARDIAH

0 comments


DAKWAH: PESANAN KHUSUS DAKWAH FARDIAH

1. Hendaklah bersungguh-sungguh, memberikan sepenuh perhatian, mengikuti perkembangan dan membuat penilaian setelah dakwah fardiah dilaksanakan dalam jangka masa tertentu. Ini dilakukan supaya kita berpuas hati terhadap penerusan, perlaksanaan dan hasil yang diperolehi.

2. Pelaksana dakwah fardiah hendaklah terlebih dahulu diberikan panduan dan tunjuk ajar berkenaan uslub, pengertian dan beberapa perkara yang bersangkutan dengannya.

3. Usaha dakwah mereka boleh dibantu dengan cara membekalkan mereka dengan beberapa perkara, penjelasan dan isi-isi penting yang memantapkan sesuatu pengertian yang ingin disampaikan di pertemuannya dengan mad'u.

4. Ketujuh-tujuh marhalah yang telah dinyatakan di atas hendaklah benarbenar dilaksanakan kepada mad'u satu-persatu secara tertib di atas, kemungkinan menyebabkan mad'u tidak menerima apa yang disampaikan. Dapat diperhatikan bahawa setiap marhalah mempunyai hubungan dan kesan langsung dengan marhalah sebelumnya. Sebagai contoh; Apabila kita mengajak mad'u menyertai jemaah sedangkan dia tidak menerima tanggungjawab umum yang diwajibkan oleh jemaah, maka dia tidak akan memenuhi ajakan tersebut.

5. Keinginan untuk membawa mad'u ke marhalah terakhir tanpa usaha yang gigih dah berpuas hati sepenuhnya dengan pencapaiannya di setiap marhalah tidah boleh dijadikan alasan untuk tergesa-gesa membawa mad'u ke tahap itu. Ini adalah untuk menghapuskan kemungkinan dia ragu-ragu dan goyah tatkala menghadapi dugaan atau gangguan.

6. Perbincangan dengan pelaksanan dakwah fardiah mengenai ketujuh-tujuh marhalah dan perkara yang berkaitan dengannya seperti dalil atau faktorfaktor yang membantu mad'u menerimanya amat baik dilakukan. Ini adalah untuk memudahkan tugas daie ketika berhadapan dengan mad'u.

7. Selain daripada menjelaskan kesucian jalan dakwah dan semua tuntutannya, usaha-usaha menghilangkan keraguan dan kesamaran (syubhat) terhadap amal Islami, tuntutan-tuntutannya dan aktivis-aktivisnya juga mesti dilakukan. Ini dilakukan supaya sebarang kesan keraguan di dalam dirinya dapat dikikis.

8. Kebaikan dan kejayaan cemerlang yang diperolehi oleh mereka yang menyahut seruan Allah semestinya ditonjolkan. Begitu juga dengan bahaya besar yang menimpa mereka yang menolaknya. Sesungguhnya uslub yang memberikan galakan dan amaran banyak memberikan kesan kepada apa yang disampaikan oleh daie.

9. Para daie mestilah sentiasa tolong menolong dan nasihat menasihati sesama mereka dalam menghadapi halangan dan rintangan, bagaimana merancang dan memanfaatkan pengalaman yang lalu di medan ini.

10. Ketika berada di mana-mana marhalah, mad'u boleh dibantu dengan membekalkan mereka dengan buku-buku, risalah-risalah dan majalah-majalah. Mereka diminta supaya bertanyakan perkara yang kesamaran untuk dijelaskan.

11. Mad'u yang berkemampuan dan didapati layak untuk melaksanakan tugas dakwah, maka dia boleh diminta supaya melakukan tugas tersebut, dijelaskan cara dan diikuti perkembangannya.

12. Keberkatan, taufiq dan penghasilan adalah berkadar dengan keikhlasan, kesungguhan, berlapang dada dan kesabaran.

13. Dakwah fardiah ini dapat dilaksanakan di dalam sebarang suasana dan keadaan, berbeza dengan dakwah am yang kadang-kadang menghadapi tekanan dan rintangan.

14. Dakwah fardiah istimewa kerana ia mewujudkan hubungan dan ikatan dengan mad'u. Ini berbeza dengan dakwah am seperti ceramah dan majlis ilmu kerana ia tidak melahirkan hubungan mesra secara langsung antara daie dan mad'u.

15. Dakwah fardiah memberikan pengalaman dan pelaksananya melakukan dakwah secara praktikal; dakwah yang merupakan kewajiban yang paling utama.

16. Dakwah fardiah membekalkan daie dengan hasil dan bekalan yang akan membantunya melaksanakan tugas dakwah dengan sebaik-baiknya.

17. Dakwah fardiah memberi kesempatan kepada mad'u untuk meminta penjelasan terhadap setiap kekeliruan dan mampu menghapuskan keraguan dan kesamaran di dalam dirinya. Ini akan menyempurnakan pembentukan peribadinya.

18. Berdasarkan kiraan secara congak, kita akan dapati hasil dakwah fardiah ini mampu mencapai angka yang berlipat ganda di dalam waktu yang singkat.

Sumber: Dakwah Fardiah oleh Mustafa Masyhur

Biografi Sayyid Sabiq

Thursday, January 3, 2008 0 comments


Sayyid Sabiq dilahirkan pada tahun 1915 di Mesir. Ia merupakan salah seorang ulama al-Azhar yang menyelesaikan kuliahnya di fakultas syari’ah. Kesibukannya dengan dunia fiqih melebihi apa yang pernah diperbuat para ulama al-Azhar yang lainnya. Ia mulai menekuni dunia tulis-menulis melalui beberapa majalah yang eksis waktu itu, seperti majalah mingguan ‘al-Ikhwan al-Muslimun’. Di majalah ini, ia menulis artikel ringkas mengenai ‘Fiqih Thaharah.’ Dalam penyajiannya beliau berpedoman pada buku-buku fiqih hadits yang menitikberatkan pada masalah hukum seperti kitab Subulussalam karya ash-Shan’ani, Syarah Bulughul Maram karya Ibn Hajar, Nailul Awthar karya asy-Syaukani dan lainnya.

Sayyid mengambil metode yang membuang jauh-jauh fanatisme madzhab tetapi tidak menjelek-jelekkannya. Ia berpegang kepada dalil-dalil dari Kitabullah, as-Sunnah dan Ijma’, mempermudah gaya bahasa tulisannya untuk pembaca, menghindari istilah-istilah yang runyam, tidak memperlebar dalam mengemukakan ta’lil (alasan-alasan hukum), lebih cenderung untuk memudahkan dan mempraktiskannya demi kepentingan umat agar mereka cinta agama dan menerimanya. Beliau juga antusias untuk menjelaskan hikmah dari pembebanan syari’at (taklif) dengan meneladani al-Qur’an dalam memberikan alasan hukum.

Contoh Peribadi dan Akhlak

Sayyid Sabiq merupakan seorang yang menjadi contoh dalam peribadi dan akhlak. Beliau bukan sahaja berilmu, bahkan mempunyai budi pekerti yang mulia dan pandai menjaga perhubungan yang baik sesama manusia. Sifatnya yang suka berjenaka, lemah lembut dan menghormati orang lain walaupun dengan kanak-kanak membuatkan beliau disenangi oleh segenap lapisan masyarakat.

Kegiatan Dakwah

Sayyid Sabiq merupakan seorang yang banyak mengembara untuk men-yampaikan dakwah. Banyak negara yang dilawatinya termasuk Indonesia, United Kingdom, negara-negara bekas Kesatuan Soviet Union dan seluruh negara Arab. Beliau meninggalkan kesan yang mendalam pada setiap negara yang diziarahinya.

Sayyid Sabiq turut membuka kelas-kelas pengajian di rumahnya. Pada setiap hari Ahad dikhaskan untuk kaum wanita dan orang yang sudah berumahtangga. Manakala kelas untuk lelaki diadakan pada setiap hari minggu. Malam Khamis merupakan malam yang dinanti-nantikan oleh semua ahli jemaah yang bersolat Isya’ di Masjid ‘lbadur-Rahman, Akhir Mahattoh, Haiyu Sabie’ kerana pada malam itu dikhususkan untuk pengajian yang dikendalikan oleh Sayyid Sabiq. Dalam majlis ilmu itu, beliau banyak memberi fatwa dan menjawab persoalan yang berbangkit tentang Islam. Pelajar luar negara juga tidak ketinggalan mengikuti majlis ilmu yang berkat itu walaupun Sayyid Sabiq sering menggunakan Bahasa Arab Ammi (lahjah arab tempatan).

Antara contoh kegigihannya dalam menyampaikan dakwah, diceritakan bahawa ketika beliau berada dalam penjara, dengan berpijak di atas baldi-baldi yang telah disusun dalam bilik penjara untuk dijadikan mimbar disebabkan oleh tubuh beliau yang kecil dan kurus, beliau dengan lantang dan bersemangat menerangkan hukum fiqh dan agama terhadap tahanan-tahanan politik yang sama-sama ditangkap bersamanya. Pengawal penjara dan askar yang mengawal mereka turut mengikuti kuliah tidak rasmi beliau itu dari luar jaringan besi penjara.

Karyanya

Juz pertama dari kitab beliau yang terkenal “Fiqih Sunnah” diterbitkan pada tahun 40-an di abad 20. Ia merupakan sebuah risalah dalam ukuran kecil dan hanya memuat fiqih thaharah. Pada mukaddimahnya diberi sambutan oleh Imam Hasan al-Banna yang memuji manhaj (metode) Sayyid Sabiq dalam penulisan, cara penyajian yang bagus dan upayanya agar orang mencintai bukunya.

Setelah itu, Sayyid Sabiq terus menulis dan dalam waktu tertentu mengeluarkan juz yang sama ukurannya dengan yang pertama sebagai kelanjutan dari buku sebelumnya hingga akhirnya berhasil diterbitkan 14 juz. Kemudian dijilid menjadi 3 juz besar. Belaiu terus mengarang bukunya itu hingga mencapai selama 20 tahun seperti yang dituturkan salah seorang muridnya, Dr Yusuf al-Qardawi.

Banyak ulama yang memuji buku karangan beliau ini yang dinilai telah memenuhi hajat perpustakaan Islam akan fiqih sunnah yang dikaitkan dengan madzhab fiqih. Karena itu, mayoritas kalangan intelektual yang belum memiliki komitmen pada mazhab tertentu atau fanatik terhadapnya begitu antusias untuk membacanya. Jadilah bukunya tersebut sebagai sumber yang memudahkan mereka untuk merujuknya setiap mengalami kebuntuan dalam beberapa permasalahan fiqih.

Buku itu kini sudah tersebar di seluruh pelosok dunia Islam dan dicetak sebagian orang beberapa kali tanpa seizin pengarangnya. Tetapi, ada kalanya sebagian fanatisan madzhab mengkritik buku Fiqih Sunnah dan menilainya mengajak kepada ‘tidak bermadzhab’ yang pada akhirnya menjadi jembatan menuju ‘ketidak beragamaan.’

Sebagian ulama menilai Sayyid Sabiq bukanlah termasuk penyeru kepada ‘tidak bermazhab’ sekali pun beliau sendiri tidak berkomitmen pada madzhab tertentu. Alasannya, karena beliau tidak pernah mencela madzhab-madzhab fiqih yang ada dan tidak mengingkari keberadaanya.

Sementara sebagian ulama yang lain, mengkritik buku tersebut dan menilai Sayyid Sabiq sebagai orang yang terlalu bebas dan tidak memberikan fiqih perbandingan sebagaimana mestinya di dalam mendiskusikan dalil-dalil naqli dan aqli serta melakukan perbandingan ilmiah di antaranya, lalu memilih mana yang lebih rajih (kuat) berdasarkan ilmu. Apa yang dinilai para penentangnya tersebut tidak pada tempatnya. Sebenarnya buku yang dikarang Sayyid Sabiq itu harus dilihat dari sisi untuk siapa ia menulis buku itu. Beliau tidak menulisnya untuk kalangan para ulama tetapi untuk mayoritas kaum pelajar yang memerlukan buku yang mudah dan praktis, baik dari sisi format atau pun content (isi).

Di antara ulama yang mengkritik buku tersebut adalah seorang ulama hadits yang terkenal, Syeikh Muhammad Nasiruddin al-Albani yang kemudian menulis buku ‘Tamaamul Minnah Bitta’liq ‘ala Fiqhissunnah”. Kitab ini ibarat takhrij bagi hadits-hadits yang terdapat di dalam buku fiqih sunnah.

Mengajak Umat Bersatu dan Tidak Berpecah Belah

Sayyid Sabiq merupakan sosok yang selalu mengajak agar umat bersatu dan merapatkan barisan. Beliau mengingatkan agar tidak berpecah belah yang dapat menyebabkan umat menjadi lemah. Beliau juga mengajak agar membentengi para pemudi dan pemuda Islam dari upaya-upaya musuh Allah dengan membiasakan mereka beramal islami, memiliki kepekaan, memahami segala permasalahan kehidupan serta memahami al-Qur’an dan as-Sunnah.
Hal ini agar mereka terhindar dari perangkap musuh-musuh Islam. Beliau juga pernah mengingatkan bahwa Israel adalah musuh bebuyutan umat ini yang selalu memusuhi kita secara berkesinambungan. Beliau pernah bertemu dengan salah seorang pengajar asal Palestina yang bercerita kepada beliau, “Suatu kali saya pernah melihat seorang Yahudi sangat serius duduk menghafal Kitabullah dan hadits-hadits Rasulullah. Lalu saya tanyakan kepadanya, ‘Kenapa kamu melakukan ini.?’ Ia menjawab, ‘Agar kami dapat membantah kalian dengan argumentasi. Kalian adalah orang-orang yang reaktif dan sangat sensitif, karena itu kami ingin mengendalikan lewat sensitifitas kalian itu. Jika kami berdebat dengan kalian, kami akan menggunakan ayat-ayat dan hadits Nabi kalian. Kami juga akan menyebutkan sebagian permisalan dalam bahasa Arab yang mendukung permasalahan kami sehingga kalian bertekuk lutut terhadap seruan kami dan mempercayai kebenarannya.” Anugerah dan Pengiktirafan
Sepanjang hayatnya, Sayyid Sabiq banyak menerima anugerah dan pengiktirafan atas ketokohan dan keilmuan beliau. Kemuncaknya, beliau telah menerima Pingat Penghargaan Mesir yang dianugerahkan oleh Presiden Republik Arab Mesir, Mohammad Husni Mubarak pada 5 Mac 1 988. Manakala di peringkat antarabangsa pula, Sayyid Sabiq telah dianugerahkan Jaaizah al-Malik Faisal al-Alamiah pada tahun 1994 dari Kerajaan Arab Saudi dalam menghargai usaha-usahanya menyebarkan dakwah Islam. Wafatnya Tiada kata-kata yang dapat menggambarkan kesedihan umat Islam apabila seorang demi seorang ulama besar menyahut seruan Yang Esa. Bermula dengan pemergian Syeikh Mutawalli Syarawi pada tahun 1998, dituruti dengan kematian Syeikh Abdul Aziz Baz pada awal tahun 1999. Selepas itu, Syeikh Al-Albani pada hujung tahun1999. Bahkan ketika kita sedang leka dengan millennium baru, kita dikejutkan dengan berita pemergian Syeikh Abu al-Hasan Ali an-Nadawi. Tanggal 28 Februari 2000, giliran Sayyid Sabiq pula pergi menyertai kafilah solihin dan ulama ‘amilin menyahut panggilan Ilahi. Jenazah beliau sempurna disolatkan oleh beribu-ribu orang di Masjid Rabiah al-Adawiyah, Madinah Nasr dengan diimami oleh Syeikh al-Azhar as-Syarief, Dr. Muhammad Sayid Tantawi. Turut mengikuti solat jenazah ialah as-Sayid Hani Wajdi yang mewakili Presiden Republik Arab Mesir, Mufti Kerajaan Mesir, Dr. Nasr Farid Wasil, Menteri Awqaf, Dr. Hamdi Zaqzuq, Presiden Parti Buruh, Ibrahim Syukri, Ketua Jabhah Ulama al-Azhar dan anggota-anggotanya, Ketua Jam’iyah Syarqiyyah, Dr. Fuad Mukhaimar. serta puluhan ulama dan pemimpin masyarakat setempat yang tidak ketinggalan memberikan penghormatan terakhir terhadap ulama besar umat ini. Jenazah beliau kemudian dibawa ke tanah tempat kelahirannya di Markaz Bajour, Maneofiah untuk disemadikan di sana.

Pesanan Buat Umat Islam di Malaysia dari Bumi Palestin

Tuesday, January 1, 2008 0 comments


HAMAS :Pesanan Buat Umat Islam di Malaysia

(Ini adalah pesanan Dr Khalil al-Haya mewakili HAMAS di Palestin untuk umat Islam di Malaysia. Beliau telah berada di Malaysia pada tarikh 11 Mei-17 Mei 2006 untuk siri kempen "Bersama Menyokong Rakyat Palestin dan kerajaan HAMAS". Pesanan ini telah diterjemahkan oleh Maszlee Malik di atas permintaan Dr Khalil)

Alhamdulillah, Allah telah memilih kami yang berada di Palestin untuk berjihad. Kami telah dipilih untuk menjadi barisan hadapan kepada umat Islam. Kami telah dipilih oleh Allah SWT untuk mengorbankan jiwa, nyawa, harta, anak-anak kami untuk menentang musuh Allah dan mempertahankan Masjid al-Aqsa. Kami juga telah dipilih oleh Allah SWT untuk mewakili umat Islam di seluruh dunia untuk menjadi benteng pertahanan kepada al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam dan juga masjid ketiga suci mereka. Kami juga telah dipilih oleh Allah untuk menjadikan mati syahid sebagai impian utama kehidupan kami berbanding kehidupan dunia. Selama lebih daripada 60 tahun, kami hidup di medan pertempuran. Selama waktu itu jugalah kami dijajah, dizalimi, diseksa, dibunuh dan juga diperangi. Mengapa?, hanya kerana kami mengucapkan La Ilaha Ila Allah, dan kerana kami mempertahankan bumi serta masjid kami.

Pelbagai bentuk kesengsaraan telah rakyat Palestin lalui. Pengusiran dari rumah, kampung halaman, dan juga tanah watan. Dibunuh, diseksa, ditembak, dibom, dibantai, disembelih dan apa-apa lagi perbuatan tidak bertamadun yang boleh diungkapkan, telah kami lalui. Generasi berganti generasi, umat Islam di Palestin tetap sabar dan komited untuk terus kekal dan mempertahankan tanah air mereka. Ianya adalah jihad, ianya adalah kemuliaan, ianya adalah bukti yang ingin kami bawa sebagai mahar ke syurga nanti. Semoga Allah menerima pengorbanan kami ini.

Pelbagai bentuk kesengsaraan telah rakyat Palestin lalui.


Ketika di waktu awal penjajahan, kami, saudara anda dari gerakan Islam telah menjadi barisan utama perjuangan. Selepas beberapa waktu, gerakan Islam telah dibantai penjajah. Pembantaian itu walau bagaimanapun tidak cukup untuk melemahkan kami. Sehinggalah di zaman Jamal Abdul Naser, sepertimana saudara-saudara kita di Mesir dibantai, kami juga turut menerima kesannya. Semenjak tarikh tersebut,gerakan Islam terpaksa kembali ke bawah tanah. Kami telah menumpukan usaha untuk pembinaan semula struktur perjuangan. Usaha pendidikan, dakwah, tarbiyyah dan kebajikan telah menjadi agenda utama kami. Kami laluinya dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Sehinggalah di pertengahan 80'an. Apabila arus sekular telah mula jemu dengan perjuangan. Ketika arus sekular yang asalnya memandu perjuangan rakyat Palestin telah mula lesu. Kami mula memunculkan diri sebagai peneraju perjuangan rakyat Palestin. Perjuangan kami berbeza dengan perjuangan sebelum ini. Perjuangan kami adalah berteraskan Islam dan kami membawa mesej ummah. Perjuangan kami bukan hanya sekadar ingin memerdekakan sekeping tanah, tetapi untuk memandu kebangkitan umat Islam semula dan meninggikan syiar Islam di muka bumi ini.

HAMAS, semenjak hari pertama penubuhannya telah menjadikan jihad sebagai jalan utama untuk memerdekakan bumi Palestin. HAMAS juga telah menjadikan Islam sebagai landasan perjuangannya. HAMAS juga telah memberikan nyawa ahli-ahli mereka untuk tujuan tersebut. HAMAS juga telah berjanji dengan rakyat Palestin dan juga kepada umat Islam untuk terus komited dengan perjuangan mereka. HAMAS juga berjanji untuk memerdekakan masjid al-Aqsa walaupun terpaksa berjuang dengan kuku dan gigi sahaja. Itulah janji kami.

Selepas hampir 20 tahun berjuang, Allah memberikan hasilnya kepada perjuangan HAMAS. Kami diberi kepercayaan oleh rakyat untuk memerintah mereka. Kemenangan ini, walaupun indah, namun ianya merupakan ujian yang getir bagi kami. Kemenangan tersebut merupakan era baru perjuangan HAMAS. Kami terpaksa menambahkan satu lagi ruang di dalam perjuangan kami, iaitu ruangan politik pemerintahan. Semakin bertambahnya beban, semakin tingginya perngorbanan.

HAMAS juga berjanji untuk memerdekakan masjid al-Aqsa walaupun terpaksa berjuang dengan kuku dan gigi sahaja.


Buat umat Islam di Malaysia, andalah saudara kami yang paling hampir di Malaysia. Hati-hati kita telah diikat dengan fikrah dan aqidah yang sama. Kita telah dihimpunkan di dalam ikatan kerohanian yang jitu. Kita telah ditakdirkan untuk bersama di dalam perjuangan dengan manhaj yang sama. Kami adalah wakil anda di Palestin. Kemenangan kami adalah kemenangan anda. Pemerintahan kami adalah pemerintahan anda. Kerajaan HAMAS adalah kerajaan umat Islam dan hadiah buat perjuangan pecinta Islam di seluruh dunia. Tidakkah anda sedar perkara ini?, jika anda tidak sedarkan perkara ini siapakah lagi yang akan menyedarinya???

Umat Islam di Malaysia sekelian, menjadi pemerintah bukanlah sesuatu yang mudah. Apatah lagi memerintah di dalam fasa penjajahan dan peperangan. Apatah lagi jika pemerintahn itu hanyalah memerintah sebuah negara yang tidak berdaulat dan dinafikan kedaulatannya. Apatah lagi apabila memerintah sebuah negara yang menjadi sasaran keganasan penjajah Zionis yang didokongi oleh kuasa besar dunia yang zalim. Apatah lagi pemerintahan tersebut adalah mewarisi pemerintahan sebelumnya yang meninggalkan beban hutang sebanyak USD 3 billion di dalam akaun kerajaan. Inilah realiti kerajaan yang kami terajui. Inilah juga realiti kerajaan yang diterajui oleh HAMAS di Palestin. Inilah realiti kerajaan yang mewakili anda semua di seluruh dunia.

Sehingga kini, para pegawai kerajaan, termasuk para menteri, tidak menerima gaji semenjak 3 bulan yang lalu. Tahap pengangguran telah mencaai 31% di Gaza dan Tebing Barat. Bekalan makanan dan petrol semakin berkurangan. Ubat-ubatan di hospital semakin kehabisan. Baru-baru ini, tiga orang bayi telah meninggal di hospital di Gaza kerana ketiadaan ubat-ubatan yang mencukupi. Pelajar-pelajar tidak akan dapat menduduki peperiksaan kerana kehabisan kertas di sekolah-sekolah di Gaza dan Tebing Barat. Hatta, persidangan parlimen (Majlis Legaslatif) kami di Gaza hampir-hampir dibatalkan kerana kekurangan kertas.

Mengapa ini semua?, ianya adalah kerana keberkesanan tekanan yang dikenakan ke atas rakyat Palestin oleh rejim Zionis, AS dan juga EU. Tekanan yang dikenakan hanya semata-mata rakyat Palestin telah memilih calon yang mereka inginkan di dalam pilihanraya yang lalu. Tekanan yang dikenakan kerana kami enggan menurut ugutan mereka supaya mengiktiraf penjajahan Zionis. Tekanan juga dikenakan kerana kami ingin mempertahankan diri kami daripada dibunuh oleh pihak penjajah. Sampai bilakah tekanan ini akan berakhir?

Wang hasil kutipan cukai kami yang berjumlah USD 55 juta sebulan tidak pernah dipulangkan kepada rakyat Palestin.Rejim Zionis telah mengambilnya dari kami dan tidak pernah dipaksa untuk memulangkannya kepada kami. Mengapa tiada kuasa yang memaksa rejim Zionis untuk memulangkannya. Mereka juga telah menutup laluan udara, darat dan laut kepada tanah Palestin. Ekonomi kami berada di tangan rejim Zionis kerana perjanjian gila dan bodoh yang telah dipersetujui oleh kerajaan sebelum ini. Walau bagaimanapun, kami tidak mengharapkan itu semua.

Kami yakin, saudara-saudara seIslam kami masih dapat membantu kami. Kami yakin saudara seaqidah kami akan dapat menampung keperluan rakyat Palestin dan mencukupinya. Kami yakin juga, saudara seaqidah kami di seluruh dunia akan dapat membuatkan kami terus hidup dan tidak bergantung kepada bantuan-bantuan daripada negara-negara bukan Islam, apatah lagi dari rejim Zionis. Persoalannya, di manakah saudara-saudara kami? Di manakah mereka di kala kami memerlukan mereka?

Wahai umat Islam di Malaysia. Kami mengharapkan agar anda mengepalai kempen untuk menyelamatkan kerajaan HAMAS di bumi Malaysia ini.


Wahai umat Islam di Malaysia. Kami mengharapkan agar anda mengepalai kempen untuk menyelamatkan kerajaan HAMAS di bumi Malaysia ini. Kami hanya mempunyai dua pilihan. Pertamanya, tunduk kepada tekanan AS dan EU lantas mengiktiraf Israel demi menghilangkan kesengsaraan rakyat. Pilihan yang kedua adalah teruskan berjuang dan tidak sekali-kali tunduk kepada tekanan. Kami telah memilih pilihan yang kedua. Kami akan terus berjuang ke titisan darah terakhir kami. Kami tidak akan sekali-kali mengiktiraf penjajah. Kami tidak akan sekali-kali tunduk kepada tekanan. Malangnya rakyat hanya boleh bertahan selama enam bulan. Tiap-tiap hari, rakyat mengadakan perarakan menyokong kerajaan dan menggesa agar kerajaan HAMAS tidak tunduk kepada tekanan. Kami yakin, rakyat akan terus menyokong, tetapi sampai bila?, perut mereka akan kosong. Kami tidak akan membiarkan rakyat kami kelaparan dan sakit tanpa rawatan. Kami perlukan bantuan anda untuk melakukannya. Mahukah anda melihat kerajaan HAMAS di Palestin membiarkan rakyatnya kelaparan?


Umat Islam di Malaysia sekelian,

Kami akan terus berjuang. Kami akan terus tetap dalam perjuangan sehinggalah setiap daripada kami akan gugur syahid. Kami akan terus memastikan prinsip Islam akan terus dijulang. Namun kami memerlukan sokongan dan bantuan anda.

Jikalau kami gugur syahid, dan anda sekelian terus diam membisu dan hanya menyaksikan sahaja, nantikan hari pembalasan. Kami akan tuntut dari Allah di atas kelembapan anda semua. Kami tidak akan redha terhadap kelesuan dan kebisuan anda semua. Kami tidak akan memaafkannya.

Kami mengharapkan agar anda menyumbang USD 1 (RM 3.60) setahun sahaja untuk menanggung kesengsaraan rakyat Palestin.


Umat Islam di Malaysia,

Kami mengharapkan agar anda bersikap pro-aktif. Kami mengharapkan agar anda menyumbang USD 1 (RM 3.60) setahun sahaja untuk menanggung kesengsaraan rakyat Palestin.

Kami juga mengharapkan agar anda melobi kerajaan anda yang menjadi pengerusi OIC untuk melakukan sesuatu.

Kami juga berharap dari anda untuk melakukan kempen kesedaran, dan libatkan masyarakat Malaysia, termasuk pertubuhan-pertubuhan bukan Islam untuk turut membantu rakyat Palestin.

Kami juga inign melihat anda menjadi juara di peringkat antarabangsa di dalam kempen kesedaran ini.

Banjiri media anda dengan isu Palestin dan al-Aqsa. Halakan mereka untuk menyokong perjuangan rakyat Palestin.

Kepalailah usaha serantau untuk tujuan tersebut, andalah harapan kami.

Dan akhir sekali, kami mengharapkan agar anda tidak melupakan kami di dalam doa-doa anda sekelian. Berdoalah agar kami thabat di dalam perjuangan. Berdoalah agar kami tetap di dalam perjuangan kami. Berdoalah agar kami dikurniakan mati syahid. Berdoalah juga, agar kita dapat bersama-sama bersolat di dalam Masjid al-Aqsa satu hari nanti, di mana pada waktu itu, bendera Islam akan berkibar dan syariat Allah akan berdaulat sekali lagi di atas muka bumi ini...

Allah Akbar!!!

Saudaramu,
Khalil Ismail al-Haya
Ketua Whip HAMAS di Majlis Legaslatif Palestin,
14 Mei 2006.







 
Tarbiyah Pewaris © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum